Laporan : Busiri Korwa
BIAK, tabloidpapuabaru.com – Atraksi budaya Apen Bayeren, tradisi berjalan dan menari di atas batu panas membara tanpa alas kaki, kembali menjadi salah satu daya tarik utama dalam Festival Biak Munara Wampasi 2026. Tradisi khas Suku Biak tersebut menjadi ikon festival sekaligus simbol kekayaan budaya yang masih terpelihara hingga kini.
Apen Bayeren merupakan warisan budaya yang hanya dimiliki oleh keret (marga) Rumbrapuk dari Kampung Bosnabraidi, Distrik Yawosi, Biak Utara, Kabupaten Biak Numfor. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur kepada generasi penerus dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.

Pawang Apen Bayeren, Frans Yakob Rumbrapuk, mengatakan kemampuan berjalan di atas bara api merupakan bagian dari ritual adat yang diwariskan oleh leluhur keluarga Rumbrapuk sebagai anugerah dari Tuhan.
“Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang kami terima secara turun-temurun. Tidak semua orang dapat berjalan di atas bara api. Hanya anggota keluarga yang telah melalui prosesi adat tertentu, seperti diberi ramuan khusus, dimandikan, atau mendapatkan restu adat, yang diperbolehkan melakukan atraksi ini,” ujar Frans Yakob Rumbrapuk saat diwawancarai wartawan media ini di Lokasi Festival Biak Munara Wampasi.

Ia menjelaskan, dalam setiap pelaksanaan ritual digunakan ramuan dari dedaunan yang diyakini telah diwariskan oleh leluhur sebagai bagian dari prosesi adat. Tradisi tersebut terus dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Menurut Mansar, keikutsertaan Apen Bayeren dalam Festival Biak Munara Wampasi merupakan upaya memperkenalkan budaya asli Biak kepada masyarakat luas, sekaligus menunjukkan bahwa Kabupaten Biak Numfor memiliki tradisi yang unik dan tidak ditemukan di daerah maupun negara lain.
“Kami ingin memperlihatkan kepada seluruh pengunjung bahwa Apen Bayeren adalah identitas budaya masyarakat Biak yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Ia menambahkan, atraksi Apen Bayeren tidak hanya ditampilkan pada festival budaya di Biak, tetapi juga telah mewakili Provinsi Papua dalam berbagai kegiatan budaya tingkat nasional.
Frans Yakob Rumbrapuk mengenang, pada tahun 2006 dan 2007 dirinya bersama tim tampil dalam ajang budaya di Bali mewakili Papua. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa tradisi yang diwariskan leluhur mampu memperkenalkan budaya Biak kepada masyarakat nasional bahkan dunia.

“Melalui berbagai festival budaya, kami semakin yakin bahwa warisan leluhur ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Tradisi Apen Bayeren membawa kami memperkenalkan budaya asli Orang Biak kepada banyak orang dan menunjukkan bahwa budaya ini masih tetap hidup serta dijaga secara turun-temurun,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, para peserta yang berjalan di atas bara api umumnya merupakan anak kandung maupun menantu dari keluarga Rumbrapuk yang telah mengikuti seluruh tahapan ritual adat dan memperoleh restu dari tetua adat.
Melalui Festival Biak Munara Wampasi 2026, Apen Bayeren diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang memukau, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya serta memperkuat identitas masyarakat Biak sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.***






