BIAK, tabloidpapuabaru.com – Festival Munara Wampasi 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha kreatif, pengrajin, serta sanggar budaya dari berbagai wilayah di Kabupaten Biak Numfor.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian pengunjung adalah Sanggar Insoraki dari Distrik Yawosi, Biak Utara Jauh. Di stan pamerannya, sanggar tersebut menampilkan beragam hasil kerajinan tangan khas Biak, mulai dari anyaman noken, aksesori tradisional, hingga berbagai produk seni yang seluruhnya dibuat oleh mama-mama pengrajin setempat.
Sanggar Insoraki yang berdiri sejak tahun 2013 hingga kini terus aktif melestarikan seni dan budaya lokal melalui berbagai kegiatan. Selain memproduksi kerajinan noken, sanggar tersebut juga membina kelompok seni Wor, atraksi adat Apen Beyeren, seni ukir, serta berbagai keterampilan tradisional lainnya.

Salah seorang anggota Sanggar Insoraki sekaligus pengrajin noken, Ida Rumbrapuk, mengatakan keikutsertaan mereka dalam Festival Munara Wampasi menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya Biak kepada masyarakat luas sekaligus memasarkan hasil karya para pengrajin.
“Kami sudah berdiri sejak tahun 2013 dan sampai sekarang masih terus aktif menjalankan berbagai kegiatan seni budaya. Selain membuat noken, kami juga memiliki grup Wor, Apen Beyeren, seni ukir, dan kegiatan pelestarian budaya lainnya,” ujar Ida saat ditemui di area pameran Festival Munara Wampasi di Lapangan Gelanggang Remaja Biak, Kamis malam, pada hari kedua pelaksanaan festival.
Ia menjelaskan, Sanggar Insoraki tidak hanya tampil dalam kegiatan budaya di Kabupaten Biak Numfor. Pada tahun 2024, sanggar tersebut juga mendapat undangan untuk tampil dalam Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya.

Dalam kesempatan itu, Sanggar Insoraki menampilkan ritual adat Apen Beyeren, yaitu tradisi berjalan di atas batu panas yang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Biak, khususnya bagi komunitas Biak yang bermukim di Wamena.
Menurut Ida, seluruh noken yang dipamerkan dibuat menggunakan bahan-bahan alami yang diambil langsung dari hutan. Keaslian bahan baku menjadi ciri khas noken Biak yang dalam bahasa Biak dikenal dengan sebutan Inokson.
“Semua bahan yang kami gunakan berasal dari alam dan diproses secara tradisional. Itulah yang menjadi keunikan noken khas Biak,” katanya.
Harga noken yang dipasarkan berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung ukuran, motif, dan modelnya. Beberapa noken memiliki satu ruang penyimpanan, sementara lainnya dibuat dengan dua hingga tiga kompartemen sesuai kebutuhan.

Pada hari pertama Festival Munara Wampasi 2026, sejumlah noken telah berhasil terjual kepada pengunjung.
Ida juga mengungkapkan bahwa karya Sanggar Insoraki telah mendapat kepercayaan dari berbagai pihak, termasuk pernah dipesan oleh UNICEF sebagai cendera mata berupa kalung bagi tamu-tamu kehormatan dalam sebuah kegiatan.

“Kami juga pernah menerima pesanan dari UNICEF. Selain itu, hasil kerajinan kami sudah banyak dikirim ke berbagai daerah bahkan hingga ke luar negeri,” tuturnya.
Keikutsertaan Sanggar Insoraki dalam Festival Munara Wampasi 2026 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat. Melalui karya-karya tradisional seperti noken dan pertunjukan seni adat, sanggar tersebut terus memperkenalkan identitas budaya Biak kepada masyarakat nasional maupun mancanegara. **






