Laporan : Jhom Guntur Mampokem
BIAK, tabloidpapuabaru.com – Kepala Kampung Mnurwar, Efraim Rumkorem, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Biak Munara Wampasi yang rutin digelar setiap bulan Juli oleh Pemerintah Kabupaten Biak Numfor. Menurutnya, festival budaya tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi masyarakat Biak, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat kampung.
Hal itu disampaikan Efraim Rumkorem saat ditemui tabloidpapuabaru.com di sela-sela kegiatan Snap Mor yang dipusatkan di kawasan Tanjung Barari, Kampung Mnurwar.
Ia berharap Festival Biak Munara Wampasi terus dipertahankan dan dikembangkan karena mampu menghadirkan dampak positif bagi kampung-kampung yang menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan.

“Kami sangat mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Biak Numfor yang secara konsisten menyelenggarakan Festival Biak Munara Wampasi setiap tahun. Harapan kami, kegiatan ini terus ditingkatkan karena selain melestarikan budaya, juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Efraim, pelaksanaan kegiatan Snap Mor menjadi kesempatan bagi warga untuk meningkatkan pendapatan melalui penjualan berbagai hasil laut, makanan, dan produk lokal kepada para pengunjung yang datang.
Ia mengungkapkan, hasil yang diperoleh masyarakat dari kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan gedung gereja baru di Kampung Mnurwar yang saat ini masih dalam proses pembangunan.
“Kampung kami memiliki potensi sumber daya laut yang melimpah. Melalui kegiatan Snap Mor ini, hasil laut yang kami kelola menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat sekaligus membantu pembiayaan pembangunan gereja yang sedang kami kerjakan,” katanya.

Efraim menjelaskan, masyarakat Kampung Mnurwar telah mempersiapkan kegiatan Snap Mor selama kurang lebih enam bulan melalui penerapan Sasi, yakni tradisi adat yang melarang pengambilan hasil laut pada kawasan tertentu dalam jangka waktu tertentu agar sumber daya alam tetap terjaga.
Selama masa Sasi berlangsung, masyarakat mematuhi aturan adat dengan tidak memasuki maupun mengambil hasil laut di kawasan yang telah ditetapkan. Setelah masa Sasi berakhir, kawasan tersebut dibuka secara resmi melalui ritual adat dan dilanjutkan dengan kegiatan Snap Mor sebagai bagian dari rangkaian Festival Biak Munara Wampasi.
“Kami bersama jemaat dan masyarakat telah menjaga kawasan ini selama enam bulan melalui Sasi. Hari ini Sasi dibuka sehingga masyarakat dan para pengunjung dapat menikmati hasil laut yang telah kami pelihara bersama,” jelasnya.
Ia berharap para pengunjung yang datang turut memberikan kontribusi kepada masyarakat kampung, baik melalui pembelian hasil laut maupun dengan memanfaatkan jasa yang disediakan warga, seperti area parkir di halaman rumah penduduk.
“Kami berharap kehadiran pengunjung tidak hanya menikmati hasil laut yang tersedia, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Misalnya dengan menggunakan jasa parkir yang dikelola warga atau membeli produk-produk yang dijual masyarakat. Dengan begitu, manfaat festival benar-benar dirasakan oleh masyarakat kampung,” tuturnya.
Menurut Efraim, kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, dan jemaat menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan Festival Biak Munara Wampasi, sekaligus memperkuat pelestarian budaya serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.***






