BIAK-tabloidpapuabaru.com,- Dualisme kepemimpinan di tubuh Dewan Adat Papua (DAP) yang telah berlangsung lebih dari satu dekade akhirnya berakhir. Rekonsiliasi antara Dewan Adat Papua Kantor Kampkey dan Dewan Adat Papua Kantor Ekspo resmi digelar di Biak pada Minggu (2/8/2026), menandai babak baru persatuan lembaga adat tertinggi masyarakat Papua tersebut.

Prosesi rekonsiliasi berlangsung di kediaman Mananwir Beba Yan Piter Yarangga di Kampung Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, tepatnya di kawasan dekat Goa Jepang. Pertemuan mempertemukan dua tokoh yang selama ini memimpin masing-masing kubu, yakni Yan Piter Yarangga dan Dominikus Sorabut.
Rangkaian rekonsiliasi dilaksanakan melalui prosesi adat yang sarat makna. Acara diawali dengan Mansorandak, yaitu prosesi pertama memasuki rumah sebagai simbol penerimaan dan persaudaraan. Selanjutnya dilakukan Payasyos, ritual pembersihan yang bermakna saling memohon maaf, menghapus perbedaan, serta membangun kembali perdamaian. Prosesi kemudian ditutup dengan Anankayame, yakni makan bersama sebagai lambang persatuan dan kebersamaan.

Dualisme Dewan Adat Papua bermula setelah penyelenggaraan Kongres Besar Masyarakat Adat Papua (KBMAP) III di Biak pada 2015 yang menetapkan Yan Piter Yarangga sebagai Ketua Dewan Adat Papua. Sementara itu, Kongres Luar Biasa Masyarakat Adat Papua (KLBMAP) di Wamena pada 2017 menetapkan Dominikus Sorabut sebagai Ketua Dewan Adat Papua.
Perbedaan hasil kedua forum tersebut menyebabkan DAP memiliki dua kepemimpinan yang berjalan secara paralel selama lebih dari sepuluh tahun. Kondisi itu kerap disebut sebagai dualisme antara DAP Kantor Kampkey dan DAP Kantor Ekspo.

Melalui rekonsiliasi yang berlangsung di Biak, kedua belah pihak menyatakan telah mengakhiri perbedaan tersebut. Dengan tercapainya kesepakatan bersama, Dewan Adat Papua menegaskan bahwa tidak ada lagi pemisahan antara DAP Kantor Kampkey maupun DAP Kantor Ekspo, serta tidak ada lagi penyebutan DAP versi Sorabut maupun DAP versi Yarangga.
Usai prosesi adat dan jamuan makan bersama, kedua pimpinan DAP menggelar konferensi pers. Dalam kesempatan itu mereka menegaskan bahwa Dewan Adat Papua kini telah bersatu dan berkomitmen membangun kelembagaan adat secara bersama demi memperkuat persatuan masyarakat adat Papua.
Suasana rekonsiliasi berlangsung penuh haru. Momen emosional tampak ketika Dominikus Sorabut dan Yan Piter Yarangga tidak mampu membendung air mata saat bertemu dan saling berpelukan. Tangisan keduanya menjadi simbol berakhirnya perbedaan yang telah berlangsung bertahun-tahun sekaligus menandai dimulainya lembaran baru bagi Dewan Adat Papua.
Rekonsiliasi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi penguatan peran Dewan Adat Papua dalam menjaga persatuan masyarakat adat serta memperjuangkan kepentingan masyarakat adat Papua secara kolektif di masa mendatang.***






