JAYAPURA-tabloidpapuabaru.com,- Warisan budaya Papua yang selama puluhan tahun tersimpan di Amerika Serikat akhirnya kembali ke tanah leluhurnya. Sebanyak sekitar 1.000 artefak budaya hasil repatriasi dari California, San Francisco, Amerika Serikat, disambut melalui prosesi adat sebelum secara resmi diserahkan kepada Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen), Kamis (6/8/2026).
Prosesi penyambutan berlangsung khidmat di halaman Auditorium Universitas Cenderawasih, Abepura. Momen tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah pelestarian budaya Papua karena merupakan repatriasi pertama artefak budaya Papua dari luar negeri yang berhasil dikembalikan ke Bumi Cenderawasih.
Keberhasilan pemulangan koleksi budaya ini merupakan hasil kolaborasi panjang antara Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Pemerintah Republik Indonesia, serta sejumlah lembaga di Amerika Serikat yang bersama-sama mengupayakan pengembalian benda-benda bersejarah tersebut ke tanah asalnya.

Lebih dari sekadar pemindahan koleksi museum, repatriasi ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memulihkan memori kolektif masyarakat adat Papua, memperkuat identitas budaya, sekaligus menjaga warisan leluhur bagi generasi mendatang.
Disambut Prosesi Adat
Penyambutan artefak berlangsung dalam suasana sakral dengan iring-iringan adat yang diwarnai pertunjukan tarian tradisional dari wilayah adat Biak Saireri, Lapago, dan Meepago.
Prosesi tersebut dihadiri Ketua Dewan Adat Papua bersama para Mananwir Biak di wilayah adat Tabi, tokoh adat, masyarakat, serta berbagai tamu undangan.
Dari unsur Universitas Cenderawasih, Rektor Uncen diwakili Pembantu Rektor II, Dr. Ferdinand Risamasu, SE., M.Sc.Agr. Turut hadir Kepala UPT Museum Loka Budaya Uncen, Enrico Yory Kondologit, S.Sos., M.Si., beserta jajaran museum.
Hadir pula Staf Khusus Gubernur Papua, perwakilan Pemerintah Kota Jayapura, serta berbagai elemen masyarakat yang ikut menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Simbol Kembalinya Identitas Leluhur
Dalam prosesi penyerahan, koleksi budaya tersebut secara resmi diterima sebagai bagian dari koleksi Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih.
Ketua Dewan Adat Papua, Dominikus Sorabut, yang mewakili Ketua Dewan Adat Papua Yan Pieter Yarangga, menegaskan bahwa kepulangan artefak tidak boleh dimaknai hanya sebagai perpindahan benda bersejarah dari luar negeri ke Papua.
Menurutnya, repatriasi merupakan bagian dari pemulihan jati diri masyarakat adat Papua, sekaligus bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan leluhur.
“Artefak ini adalah identitas orang Papua. Kembalinya benda-benda budaya ini merupakan kebanggaan bersama dan harus dijaga sebagai warisan yang sangat berharga,” ujarnya.

Hasil Penelitian Antropolog Selama 18 Tahun
Kepala UPT Museum Loka Budaya Uncen, Enrico Yory Kondologit, menjelaskan bahwa artefak yang dipulangkan merupakan koleksi hasil penelitian antropolog asal Amerika Serikat, Dr. O.W. (Bud) Hampton, yang melakukan penelitian di wilayah Pegunungan Papua selama kurang lebih 18 tahun, sejak 1982 hingga 1999.
Sekitar 1.000 artefak yang berhasil direpatriasi terdiri atas berbagai benda yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat adat Papua, mulai dari peralatan batu, perlengkapan berburu, aksesori tradisional, kain jaring laba-laba, noken, tas berbahan serat alam, hingga benda-benda sakral yang digunakan dalam ritual adat.
Selain artefak fisik, koleksi tersebut juga mencakup lebih dari 20.000 slide foto berwarna, sekitar 100 rekaman suara dalam pita kaset, film dokumentasi lapangan, serta catatan penelitian yang mendokumentasikan kehidupan masyarakat adat Papua secara komprehensif.
Enrico mengungkapkan bahwa proses repatriasi mulai menemukan titik terang pada akhir 2022 ketika Museum Loka Budaya Uncen dihubungi Tracing Patterns Foundation di Berkeley, California.
Lembaga tersebut menginformasikan bahwa mereka menerima hibah koleksi keluarga Hampton di Texas yang terdiri atas sekitar 1.200 artefak budaya, lebih dari 20.000 foto, ratusan film dokumentasi, serta puluhan kotak berisi buku, arsip, dan dokumen penelitian.

Koleksi tersebut berasal dari berbagai wilayah di Papua, antara lain Jayawijaya, Yalimo, Lanny Jaya, Tolikara, Yahukimo, Nduga, Puncak Jaya, Intan Jaya yang berkaitan dengan masyarakat Moni, serta Paniai, Dogiyai, dan Deiyai yang mendokumentasikan kehidupan masyarakat Mee.
Seluruh koleksi menggambarkan beragam aspek kehidupan masyarakat adat Papua, mulai dari peralatan hidup sehari-hari, perlengkapan berburu dan perang, benda religius dan sakral, noken, hingga berbagai hiasan tubuh tradisional.
Menurut Enrico, setelah Dr. Hampton meninggal dunia pada 2017, dalam wasiatnya ia secara khusus menghendaki agar seluruh koleksi budaya Papua yang dimilikinya dikembalikan ke tanah asalnya.
“Ini merupakan representasi repatriasi pertama benda-benda budaya Papua yang berada di luar negeri, khususnya dari Amerika Serikat. Hari ini kita menyambutnya kembali melalui prosesi adat sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur,” katanya.
Uncen Dorong Museum Berstandar Internasional
Pembantu Rektor II Universitas Cenderawasih, Dr. Ferdinand Risamasu, memberikan apresiasi kepada Kepala UPT Museum Loka Budaya beserta seluruh tim yang telah mengupayakan hingga koleksi budaya tersebut berhasil dipulangkan ke Papua.
Ia menilai keberhasilan repatriasi menjadi langkah besar dalam menjaga sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Papua.
Risamasu berharap Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih dapat terus dikembangkan menjadi museum yang lebih representatif dan modern dengan standar internasional sehingga mampu menyimpan, merawat, mengelola, serta memamerkan kekayaan budaya Papua secara lebih baik.
Ia juga mengungkapkan bahwa masih banyak artefak budaya Papua yang hingga kini tersimpan di berbagai negara, termasuk Belanda. Karena itu, upaya repatriasi diharapkan dapat terus dilanjutkan agar semakin banyak warisan budaya Papua yang kembali ke tanah leluhurnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan jamuan makanan khas Papua dan foto bersama seluruh tamu undangan sebagai ungkapan syukur atas kembalinya warisan budaya tersebut ke Bumi Cenderawasih.
Kepulangan sekitar 1.000 artefak budaya Papua ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni simbolis semata, tetapi menjadi awal penguatan peran Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih sebagai pusat pelestarian, penelitian, dan edukasi kebudayaan Papua.
Bagi generasi muda Papua, koleksi tersebut menjadi jembatan untuk mengenal lebih dekat sejarah, pengetahuan, serta identitas leluhur mereka. Repatriasi ini sekaligus menegaskan bahwa warisan budaya masyarakat adat merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.***




