Laporan : Busiri Korwa
BIAK, tabloidpapuabaru.com – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kabupaten Biak Numfor, Fransisco Olla, S.Sos., M.M., mengatakan Festival Biak Munara Wampasi 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat daya saing produk-produk unggulan UMKM lokal.
Menurutnya, berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM, saat ini terdapat sekitar 235 pelaku UMKM yang tersebar di Kabupaten Biak Numfor. Namun, keterbatasan ruang pamer menyebabkan belum seluruh pelaku usaha dapat berpartisipasi dalam festival tersebut.
“Minat masyarakat untuk mengikuti festival sangat tinggi, namun kapasitas stan yang tersedia masih terbatas. Meski demikian, produk-produk yang ditampilkan mampu menunjukkan kualitas dan potensi besar UMKM Biak Numfor,” ujar Fransisco Olla saat diwawancarai Media ini di Stand pemeran Dinas Koperasi dan UMKM.
Berbagai produk unggulan yang dipamerkan, lanjutnya, mencerminkan kekayaan sumber daya alam dan kreativitas masyarakat Biak. Mulai dari aneka makanan olahan, minyak tradisional, produk herbal, sambal, keripik, olahan sagu, batik khas Biak, hingga berbagai kerajinan tangan berhasil menarik perhatian pengunjung.
Ia menegaskan, seluruh produk tersebut merupakan hasil pembinaan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Biak Numfor yang terus didorong agar memiliki kualitas, kemasan, dan daya saing yang mampu menembus pasar di luar Papua.
“Kami berharap para pelaku UMKM terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produknya. Semua yang dipamerkan merupakan produk alami yang berasal dari kekayaan alam Biak Numfor. Ini adalah keunggulan daerah yang harus kita banggakan dan dipasarkan lebih luas hingga ke berbagai daerah di Indonesia,” katanya.
Fransisco juga mengajak masyarakat untuk semakin mencintai dan menggunakan produk lokal sebagai bagian dari upaya membangun identitas ekonomi daerah.
“Produk-produk lokal ini harus menjadi kebanggaan bersama dan menjadi brand Kabupaten Biak Numfor. Hasil karya anak-anak daerah ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ungkapnya.
Selain itu, ia mendorong tumbuhnya budaya mencintai produk lokal melalui kebiasaan mengonsumsi pangan tradisional dan menggunakan produk khas daerah.
“Kami berharap ke depan ada hari-hari tertentu di mana masyarakat bersama-sama mengonsumsi pangan lokal seperti keladi, papeda, dan pokem. Begitu juga penggunaan batik khas Biak sebagai identitas budaya yang dikenakan pada kesempatan tertentu,” ujarnya.
Menurut Fransisco, batik khas Biak merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menjadi identitas masyarakat Biak. Oleh karena itu, pengembangan produksi dan pemasarannya perlu terus didorong agar mampu menjangkau pasar nasional bahkan internasional.
“Melalui Festival Biak Munara Wampasi, kami ingin menunjukkan bahwa produk asli Biak memiliki kualitas yang mampu bersaing. Jika terus dikembangkan secara berkelanjutan, produk-produk ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Papua, tetapi juga dapat dikenal luas di berbagai daerah bahkan mancanegara,” pungkasnya. **






