JAYAPURA.TABLOID PAPUA BARU.COM,- Organisasi Profesi (OP) tenaga kesehatan di Provinsi Papua, secara resmi meminta jaminan keamanan bagi seluruh tenaga kesehatan yang mengabdi di 29 kabupaten/kota, terutama di daerah rawan konflik pasca meninggalnya Gabriella Meilani, Ahli Teknologi Labolatorium Medis (ATLM) pada Puskesmas Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang.
Penegasan disampaikan dihadapan ratusan tenaga kesehatan yang tergabung dalam Organisasi Profesi tenaga kesehatan diantaranya Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua,Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Papua, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Papua, Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI) Papua.
Hadir juga Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Papua, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Papua dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Papua dalam kegiatan bakar lilin dan doa bersama untuk tragedi nakes di Kiwirok yang dilaksanakan di Taman imbi, Kota Jayapura, Selasa (21/9).
OP tenaga kesehatan tentu tidak ingin para tenaga kesehatan, harus berguguran karena ulah pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab seperti yang dialami oleh Gabriella Meilani yang baru bertugas sebagai tenaga kontrak di Puskesmas Kiwirok pada 21 Juni lalu.
” Kami organisasi profesi tenaga kesehatan di Provinsi Papua menyatakan sikap terhadap nakes di kiwirok dimana kami prihatin atas terjadinya aksi kekerasan yang menyebabkan kematian dan luka parah serta trauma psikologik yang dialami oleh tenaga kesehatan di Kiwirok, Pegubin,”ungkap Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Dr. Isak Tukayo, SKp, MSc di Taman Imbi Kota Jayapura, Selasa (21/9), malam.
Pihaknya menolak dengan tegas setiap tindakan kekerasan terhadap tenaga kesehatan oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan apapun.
“Mendorong adanya kebijakan perekrutan dan penempatan sumber daya tenaga kesehatan yang berpihak kepada masyarakat dan budaya setempat,”tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPW PATELKI Provinsi Papua, Hamid, S. Si.,M. Si menyebutkan bahwa kepergian salah satu tenaga ATML yang didiknya merupakan pukulan telak tak hanya bagi DPW PATELKI Papua, tetapi menjadi perhatian seluruh insan kesehatan di Indonesia.
“Dia sempat tes kontrak yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan Pemerintah Pegubin, dia lolos dua-duanya, cuma dia pilih tugas di Kiwirok kebetulan disana belum ada tenaga laboratorium, jadi dia tenaga satu-satunya yang ada disana, kegiatan ini kami apresiasi karena menjawab apa yang PATELKI Papua rasakan, bahkan seluruh Indonesia, “sebutnya.
Menurutnya, almarhumah Gabriella Meilani sendiri baru bertugas sejak 21 Juni 2021 lalu, dan berakhir pada bulan September ini. “Belum berakhir kontraknya dia sudah pergi (meninggal, red), ini akan berpengaruh terhadap program Nusantara Sehat yang mana mengirim semua nakes termasuk PATELKI yang ada didalam itu, ini akan memengaruhi psikologi teman-teman, “imbuh Hamid.
Dirinya juga meminta perhatian dari pemerintah dalam memberikan jaminan keamanan bagi tenaga kesehatan yang berada di daerah-daerah rawan, teemasuk nakes dari PATELKI yang tersebar di 29 kabupaten/kota.
“Jarang ada yang mau seperti Ela (Gabriella Meilani) , yang mau di pelosok, daerah rawan, terima kasih Ella kami sangat merindukanmu, semoga diterima disisi Tuhan, “bebernya berurai air mata.
Ditambahkan, pihaknya mengharapkan dukungan dari pihak pemerintah kepada leluarga almarhum yang ditinggalkan, mengingat dirinya meninggal saat bertugas dan secara administrasi terdaftar sebagai nakes kontrak dan terigister sebagai anggota PATELKI. (John Mampokem/Yan)








