Mengenang 170 Tahun Injil di Tanah Papua dari Pulau Mansinam ke Seluruh Pelosok Neg’ri Hitam
( Mansinam, 5 Februari 1855 – Lembah Baliem, 5 Februari 2025 )
Naskah ; Pdt. Hanz Wanma, STh
Di ketika alam raya di Negri Hitam digerogoti awan dan kabut kekafiran, pembunuhan, pengayauan, perampasan para budak.. nyanyian – nyanyian ra’ak dari para mambri yang menggema di seantero Tanah ini…. derap langkah mereka yang terus mencari sebuah prestise…terdengar ratap tangis di setiap waktu sebab darah dan darah yang jatuh membasahi tepian pantai, pulau, muara sungai hingga ketakutan dari kaum perempuan serta anak – anaknya yang berlari dan bersembunyi di balik hutan itu…bahkan dalam kekuasaan haknya tentang tanah, hutan, gunung dan lautnya, mereka bertanya ; apa maksud bangsa – bangsa ini datang ke tanah dan neg’rinya ? Apakah mereka membawa sebuah peradaban baru ataukah sebuah malapetaka besar yang akan dialami oleh kami dan anak cucu kami sepanjang kehidupan di Neg’ri Tak Bertuan, Tanah Timur Jauh sebutan untuk Tanah Papua dalam peta pelayaran dunia.
Di laut sebelah utara dan selatan dari Raja Ampat hingga Tanah Tabi, dari pulau Fredrijk Hendrik hingga sungai Metamani maupun beberapa sungai besar yang mengalir dan memberikan kesuburan bagi Tanah itu, sungai Mamberamo, Digul, Asmat, Wasian hingga Wosimi, sedang berlayar kapal – kapal kaum penjajah, peneliti, pedagang serta para pelaut Spanyol, Portugis, Cina, Inggris dan Belanda abad 13 hingga 19 yang memberikan nama Negr’ri ini menurut maksud dan kepentingannya mulai dari Tungky, Nova Guinea, Nieuw Guinea, semua ini membuat tidak ada kepastian hidup demi masa depan suku-suku yang mendiami Neg’ri tak bertuan…Tanah Nieuw Guinea….
Belum lagi tantangan dari para Mambri yang berkuasa dan sangat menakutkan di Wilayah utara Tanah Nieuw Gunea ( Teluk Gelvink ) yang terkenal jahat dan suka melakukan rak. Perampokan, pembunuhan, perampsan budak dan perjalanan – perjalanan jauh ke Ternate. Semua ini membuat kita tidak mengerti, apa maksud Tuhan untuk sebuah masa depan bagi 257 suku berkulit hitam dan berambut keriting, dengan budaya dan bahasa berbeda, yang mendiami tanah itu ?,… mulai dari Skow Sae, Danau Sentani, Nimboran hingga Der di Raja Ampat, dari pulau Fredrijk Hendrik di Merauke hingga Sor di Biak Utara dan pulau Mapia di Samudera Pacifik, dari sungai Mamberamo, Waropen Atas, Sarmi, Yamna, pulau Kumamba dan Liki, ke Puncak Salju yang sepi, ke gunung emas Grasberg, Baliem Yalimo, Mimika, danau Paniai, Teluk Etna, Teluk Bintuni, sungai Metamani, Teminabuan, Ayamaru, Kebar, Amberbaken Kepala Burung ( Vogelkkop ), Teluk Doreri, gunung Arfak, pulau – pulau Ha’arlem di Nabire dan Teluk Mujizat Wondama yang penuh misteri.
Mereka sedang menantikan suatu rencana kasih Allah untuk masa depan nan pasti sebab ketika tertentu, terang Kasih Allah akan menyinari seantero hutan rimba gelap, menyeberang sungai besar, mendaki bukit, menuruni ngarai dan lembah, membawa pulang manusia hitam itu, untuk mengenal Sang Gembala Agung yang tidak pernah kelihatan dan meninggalkan umatNya dalam sebuah kebimbangan sebab benih injil itu telah menembusi sukma seluruh kehidupan bahkan hati manusia hitam penghuni surga kecil, Tanah Papua sehingga mereka berseru… Menyeberanglah ke mari, dan tolonglah Kami !
Harapan itu muncul di ketika Johannes Gossner memimpin sebuah pertemuan pemuda di Berlin dalam tahun 1842 dari Utusan Tukang yang akan mengirim para pemuda dari Jerman dan Belanda untuk memberitakan injil ke seluruh dunia lewat Badan Zending Gossner bersama Johannes Gossner di Berlin Jerman dan Ottow Gerarld Heldring di Zetten Negeri Belanda. Dalam pertemuan ribuan pemuda itu… karena Geissler memakai baju biru yang sangat menyolok dari semua pemuda.. maka Gossner bertanya pada Geissler..” Hai, pemuda berbaju biru, apakah engkau tidak mempunyai hasrat untuk membawa injil ke Tanah Nieuw Guinea ? ketika Geissler bersedia maka beberapa pemuda itu dikirim menginjil ke 4 Daerah Jajahan Belanda di seluruh dunia ( Guinea di Afrika Barat, Ceilon Srilangka, Hindia Belanda ( Indonesia ) dan Suriname di Amerika Tengah..) akhirnya tali layar kapal uap Abel Tasman bertolak dari pelabuhan Rotterdaam tanggal 26 Juni 1852 dan tiba di Batavia ( Jakarta ) 17 Oktober 1852 bersama zendeling Ottow, Geissler, Schneider cs setelah menunggu 18 bulan di Jakarta, maka tanggal 9 Mei 1854 dengan kapal Padang menuju Ternate lewat Surabaya, Makassar dan tiba di Ternate, 30 Mei 1854. Selama 7 bulan di Ternate dan pada tanggal 12 Januari 1855 dengan sekunar Ternate di temani Fritzs Wekker seorang anak kecil berumur 12 tahun, kapten kapal Constantin dan anak buahnya maka kedua Rasul Papua di antar menuju Tanah Nieuw Guinea ..Neg’ri Tak Bertuan di Tanah Timur Jauh, Papua.
Hari itu… pukul enam pagi di Hari Kudus Sang Khalik minggu, 5 Februari 1855, ketika matahari kasih memancarkan sinarnya, menyinari seluruh Teluk Doreh, suku besar Arfak ( Hattam, Meyackh, Moiley dan Soub ) dan Numfor Doreh yang mendiami semenanjung dinding gunung Arfak hingga ke daratan Anday, Kwawi, Ayambori, Pasir Putih, Amban Pantai, Sidey dan Kaironi…kedua utusan Tuhan.. zendeling Johann Gottlob Geissler dan Carl Wilhelm Ottow mengucapkan seuntai kata dalam syukurnya, ketika melihat Teluk, gunung dan dataran yang indah.. di saat Matahari memancarkan sinarnya kasihnya… “ Yah, semoga matahari yang sebenarnya, yaitu rahmat Tuhan menyinari kami dan orang-orang kafir yang malang itu, yang telah sekian lamanya merana di dalam kegelapan. Semoga Sang Gembala setia mengumpulkan mereka dibawah tongkat gembalaNya yang lembut. “ akhirnya doa sulung pun diucapkan tepat jam sembilan pagi di pantai pulau Mansinam…”Im Namen Gottes Betreten wir Dieses Land… Dengan Nama Tuhan, Kami menginjak Tanah ini…
Benih injil yang ditabur …ada yang jatuh di semak belukar, tanah yang berbatu dan tanah yang baik bahkan ada yang berbuah tetapi buahnya busuk… selama tujuh setengah tahun ( 1855-1862 ) tanggal 9 November 1862 pusara abadi sebagai persembahan pertama dari pekerjaan pemberitaan injil dan peradaban di Tanah kita, menulis dengan tinta darah…sebab injil itu berkembang sangat lambat dan memang terlalu lambat Ottow pun meninggal dunia dengan sebuah pesan..” sungguh alangkah bahagianya hatiku, jika kelak di Surga nanti saya bertemu dengan salah seorang di antara orang-orang ini, yang adalah buah dari pekerjaanku… tahun 1857 injil baru diseberangkan ke daratan Kwawi dengan membayar 12 gulden.. setelah kematian Ottow, maka Geissler sendirian di Mansinam dan janda nyonya Ottow Augusta Letz sang pembawa peradaban bagi bangsa Papua yang membuka sekolah pertama di Mansinam dalam bulan Desember tahun 1858, nyonya akan segera pergi meninggalkan Mansinam, Teluk Doreh dan Tanah Papua untuk selamanya dengan kapal Ester Helena pada tanggal 17 April 1863, bersama anaknya yang berumur 2 tahun dan sementara mengandung ( 7 bulan ), dalam pelayaran di laut dekat Sidey berpapasan lewat dengan kapal De Virgo yang membawa tiga orang zendeling UZV ( Utrecht Zendelingen Vereniging ) yaitu Johannes Lodewijk van Hasselt, Willem Otterspoor dan Thomas F. Klaassen pada tanggal 18 April 1863 tiba di Kwawi untuk melanjutkan pekerjaan dari Utusan Gossner di Tanah Papua yang sudah ditutup. Sebab di Kwawi hanya zendeling Gottlieb Jaesrich sendirian yang menempati rumah Ottow dan Geissler di pulau Mansinam, sementara di Pulau Kaki pada tanggal 18 April1863 berpapasan dengan Janda Ottow Augusta Letz bersama anaknya 2 tahun dan sementara mengandung 7 bulan dengan kapal layar Ester Helena meninggalkan Tanah Papua
Gempa bumi yang dahsyat pada tanggal 24 Mei 1864 menyebabkan 250 orang meninggal dunia dari Maruni, Anday hingga dataran Ayambori, Kwawi dan Farsirido, Geissler menulis dalam catatan hariannya bahwa Mansinam bergoyang seperti ayunan selama seminggu, rumah penduduk di Mansinam, Kwawi bahkan rumah zendeling hancur berantakan dalam keadaan tidak ada harapan lagi, maka 3 orang zendeling Th. F. Klaassen, W. Otterspoor dan Jaesrich pergi meninggalkan pekerjaan zending di Tanah Papua untuk pulang selamanya ke Tanah Belanda… dalam keadaan ini, hanya Geissler sendirian di Mansinam dan J.L. van Hasselt di Kwawi… maka Geissler pun mengingat ucapannya ketika 3 orang utusan UZV ( Van Hasselt, Klaassen dan Otterspoor ) tiba di Mansinam… 18 April 1863… Tanah Papua yang luas dengan lautnya yang membiru, gunung – gunung, lembah, pulau dan sungai – sungai yang besar ibarat raksasa yang sedang tidur menunggu untuk dibangunkan… sedang menantikan para pekerja yang setia dan dengar – dengaran… lebih lanjut Johannes Lodewijk van Hasselt mengingat ketiga rekannya yang sudah pergi… sewaktu mereka mengheningkan cipta di makam zendeling Ottow, maka Van Hasselt pun berkata.. Kami datang, di saat musim menuai air mata..
Di ketika perkembangan pekabaran injil dan peradaban di Tanah Papua dalam sebuah ketidak-pastian karena gempa bumi di bulan Mei 1864 yang menyebabkan semua pekerjaan terhambat dan rusak berat, namun dalam keadaan demikian pada tanggal 14 September 1864 peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Hope de Kerk ( Harapan ) Mansinam yang ibadahnya dilayani oleh Geissler dan J.L. van Hasselt meletakan batu pertama namun pada tanggal 26 November 1864 gedung ini ambruk akibat angin sakal yang melanda Mansinam, namun Geissler tidak putus asa dan pembangunan gedung gereja darurat kembali dilaksanakan sebab sebulan kemudian pada tanggal 1 Januari 1865 dua orang Papua pertama yang adalah buah sulung setelah 11 tahun injil di tabur di tanah kita, Sara dan anaknya Margaretha perempuan Numfor dibabtis inilah persembahan pertama dari benih injil itu.
Injil yang diseberangkan dari Mansinam ke daratan Kwawi pada tahun 1857 dengan membayar 12 gulden, dari Kwawi menuju ke Amberbaken 25 Mei 1865 oleh zendeling Johannes Lodewijk van Hasselt, sambil menunggu para pekerja zending UZV yang akan tiba untuk membantu pelayanan di Medan Pekabaran Injil sebab hanya Geissler dan Van Hasselt selama tiga tahun ( 1862 – 1865 ) bekerja sendirian di Tanah Papua, tanggal 1 Februari 1866 tiba di Mansinam zendeling Rudolf Beyer, Carl Beyer, Jan Dirk Kamps dan Cornelys Wijzer, tanggal 27 Maret 1866 tiba lagi rombongan kedua, keluarga Franzs Mosche dan J.L. van Hasselt untuk menambah jumlah pekerja di Tanah Kita.
tanggal 1 – 15 Mei 1866 perjalanan orientasi pekabaran injil ke Teluk Wondama dan Yaur Kwatisore dilakukan dalam bayang-bayang ketakutan dan kebimbangan sebab inilah perjalanan pemberitaan injil yang pertama sejak 5 Februari 1855…. dari Mansinam menuju Geelvinkbai ( Teluk Cenderawasih…. )
Sangaji Bernaard Rumadas memukul tifa di depan perahu dengan dua puluh orang pendayung dari Mansinam bersama tiga orang zendeling ; Franzs Mosche, Rudolf Beyer dan Johann Gottlob Geissler, dengan susah payah melawan tantangan dan ganasnya badai samudera pacifik dan para bajak laut, maka tibalah mereka di Yomber Roswar Teluk Wondama, pada tanggal 4 Mei 1866, tanggal 6 Mei 1866 tibalah mereka di pulau Tahta Iblis Roon Teluk Wondama….perjalanan dilanjutkan menuju Yaur Kwatisore dan tiba tanggal 9 Mei 1866 bersama tiga orang zendeling.. pada tanggal 15 Mei 1866 tibalah mereka kembali di pulau Mansinam dan disambut dengan luar biasa oleh zendeling J.L. van Hasselt yang sendirian di sana..sebab inilah perjalanan orientasi pekabaran injil yang pertama sejak tahun 1855 dan sangat berbahaya…
Tanggal 21 Januari 1867 keluarga Franzs Mosche sudah menetap di Jomber Roswar dan bulan Februari 1867 zendeling Rudolf Beyer sudah ditempatkan di Syabes Roon Teluk Wondama, 6 bulan sebelumnya di Yaur Kwatisore dan hendak dibunuh sehingga ia harus pulang ke Syabes Roon namun di sana ia pun harus mengalami nasib yang malang sebab isterinya Anna Cambier diracuni dan meninggal tanggal 3 Juni 1868 … namun dua bulan sebelumnya Franzs Mosche yang ditempatkan di Yomber Roswar meninggal 21 April 1868 dan menjadi pusara abadi di pulau Roswar Teluk Wondama, akhirnya Roswar, Yaur dan Roon di Teluk Wondama ditinggal pergi oleh keluarga zendeling sehingga puluhan tahun kemudian datanglah zendeling yang lain ke sana dengan tantangan yang berat dan sulit…
Zendeling William Hendrik Woelders pada Converensi Zending pertama di Mansinam, 23 Maret 1868 diputuskan untuk menetap di Anday, sebelah Barat Laut Manokwari… zendeling Nicolaas Rinnoy dan Jan Dirk Kamps ditempatkan ke Roswar menggantikan Franzs Mosche, namun Kamps harus dipindahkan ke Anday untuk membantu Woelders yang sendirian di sana, namun ia meninggal pada tanggal 25 Agustus 1870.. N. Rinnoy pun meningalkan Roswar Teluk Wondama pada tahun 1874 untuk pulang selamanya ke Tanah Belanda dan pekerjaan di Tanah Papua hendak ditutup sebab banyak zendeling, nyonya dan anak-anak yang meninggal, termasuk Geissler pada tanggal 11 Juni 1870 di Jerman dalam perjalanan mengunjungi keluarga… sehingga dalam perayaan 25 Tahun masuknya injil di Tanah Papua, 5 Feberuari 1880… zendeling Johannnes Lodewijk van Hasselt mengatakan bahwa ini bukan sebuah pesta zending atas karya Tuhan dalam medan Zending di Tanah Nieuw Guinea tetapi ini hanya sebuah peringatan biasa sebab jumlah kuburan dan pusara dari para pekerja kebun anggur Allah di Tanah Papua lebih banyak jumlahnya dari orang Papua yang percaya dan ini akan kita renungkan dalam perayaan 50 tahun zending di Papua 5 Februari 1905.
Kepastian tentang masa depan pekerjaan pekabaran injil di Tanah kita hendak ditutup… namun Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja ini, tidak menghendaki umatNya di Tanah ini seperti domba yang kehilangan gembala… maka Sang Gembala Agung itu… memberikan hikmat kepada pimpinan ( Utreech Zendeling Vereninging UZV ) di kota Utreech Belanda agar terus menerus mendukung pekerjaan di Tanah ini, dengan mengutus pemberita-pemberita injil yang siap berkorban dan mati untuk tanah dan bangsa Papua…
Akhirnya dalam bulan Maret 1870 datanglah zendeling tukang Gottlieb Lodewijk Bink, J.N. Niks dan J.H. Meeuwig namun keduanya pulang karena alasan kesehatan dan Bink lah yang bertahan selama 29 tahun di Tanah Papua, sebab dia yang membangun gedung gereja Bethel Mansinam dan diresmikan tahun 1880, termasuk membangun Jemaat Marantha Kota di Manokwari, Kantor Residen yang pertama d Tanah Papua, ia adalah orang Eropa pertama penemu kayu besi, tanggal 3 April 1892 ia sudah membawa injil ke Tanah Tabi di pulau Metudebi sewaktu pulang ia membawa Waro Wassa Itaar dan Fday Hamadi, dua orang anak Tabi untuk didik di Yende Roon dan dibabtis pada tanggal 26 Mei 1893, ia membuat peta dari Hamadi, Entrop, Abe, Sentani hingga Ifar Gunung, dia jugalah yang menemukan danau Sentani pada tahun 1892 namun akhir hidupnya harus menjadi pusara abadi di Yende Roon Teluk Wondama pada tanggal 3 Mei 1899… datang juga zendeling Wilhelm Lindert Jens tahun 1876 dan zendeling Jan Adrian van Balen tahun 1883 untuk menambah pundi – pundi para pekerja kebun anggur Allah di Tanah Kita…..
Bink dan Van Balen tiba di Yende Roon pada tanggal 2 April 1884 dengan membawa Jan Ariks Ajamiseba untuk menebus mambri Ajamiseba yang dibunuh marga Rumadas.. Jan Ariks sebagai anak perdamaian kepada marga Ajamiseba sebab nanti di tahun – tahun kemudian, seluruh Tanah Papua akan menceriterakan tentang mimpi Jan Ariks Ajamiseba yang membuat pertobatan massal di Jende Roon dan menyebar ke Japen, Biak Numfor hingga ke Tanah Tabi, Raja Ampat hingga ke seluruh Tanah Papua….
Tangal 10 Agustus 1888 zendeling Gottlieb Lodewijk Bink dan Jan Adrian van Balen menyeberangkan Injil dari Yende Roon menuju ke Windesi sebab dari Windesi khabar kesukaan itu melewati hutan, gunung dan hamparan hutan manggrove menuju Yakati, Idoor, Babo Bintuni, Kaimana, Kokas, Fakfak, Inanwatan, Teminabuan hingga ke Maybrat di kepala burung Tanah Nieuw Guinea antara tahun 1911 – 1927. Tanggal 8 November 1898 untuk pertama kali bangsa Papua mengenal Pemerintah yang lahir di Manokwari dan 16 November 1898 di Fakfak.
Injil di Tanah kita bertentangan dengan budaya dan adat sehingga sangat lama perkembangannya, namun pada tahun 1892 – 1896 dua Anak Papua mewakili masa depan bangsa kita mengikuti pendidikan di Depok yaitu Petrus Kafiar dari Supiori Selatan dan Timotius Awendu dari Supiori Utara sementara dalam rumah zendeling J.L. van Hasselt di Mansinam ada sejumlah anak – anak Papua yang dididik untuk membantu pekabaran injil selain kedua anak yang berdiploma guru. Mereka adalah Yonathan Ariks, Akwila Rumadas, Filipus Rumadas, Gerald Amunauw, Paulus Rumbekwan, Yesaya dan Lukas Burwos, Alberth Rumbrawer, Wellem Rumbobiar serta perempuan – perempuan Papua yang disiapkan oleh nyonya Wihelmina Mundt van Hasselt dengan membentuk KAUM IBU MARIA MARTHA tahun 1875 sehingga kita mendengar selain Sara dan Margaretha Yeblo, ada Naomi Lidia perempuan Windesi Wondama di Mansinam yang membeli Petrus Kafiar dengan 150 perak, Bokironi Priskila Windesi juga dari Wondama yang membeli Manyosi Kiambo Wellem Rumainum dengan sepasang anting – anting emas, Candache Christin asal Karon yang dibabtis pertama di Utrechk Belanda tahun 1876, Ely Margaretha perempuan asal Sausapor yang berumur 16 tahun tetapi sudah menjadi guru membantu J.L. van Hasselt di Mansinam, Yohana Sorbari Rumadas guru perempuan Papua pertama yang dibayar oleh pemerintah Belanda mengajar di Anday dan bekerja dipercetakan buku – buku dan nyanyian ketika itu, perempuan ini membantu zendeling W.H. Woelders dan guru orang Sangihe Talaud pertama di Papua tahun 1870 Andreas Palawey, Manfuni Rumbruren perempuan Papua yang menyusui zendeling Franzs Johannes Fredrijk van Hasselt anak dari J.L. van Hasselt dan Nyonya Mundt dari 2 minggu hingga 52 minggu atau setahun sebab inilah yang mengherankan sebab di tanah kita, injil itu berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran lainnya.
Dalam tahun 1906 zendeling F.J.F. van Hasselt dan Dereck Bernaard Starrenburg pulang dari Ambon, keduanya pergi ke pulau – pulau di Maluku, Halmahera, Saparua, Nusa Laut, Bacan, Leti dan Buru untuk mencari anak – anak muda Ambon yang bersedia bekerja di Tanah Papua sebagai guru, maka datanglah Yusuf Siahanenia, Laurents Tanamal, Ruben Haurissa,Yakob Patinassarani, Aleksander Apituley, Andreas de Fretes, Pieter Lewakabessy, Yohan Picauli, Yakobus Patiruhu dan Dominggus Lisapali dengan seruling bambunya sehingga ia mendidik anak – anak di Syabes pulau Roon untuk meniup seruling untuk pertama kali di Tanah Papua sebab dari kampung ini, lahirlah Dr. Celsius Akwan di Yamuger Jakarta, Benny Betay, Sandhy Betay dan Andy Ayamseba yang membentuk group legendaris Black Brothers, inilah guru pertama yang datang di Mansinam tinggal di rumah F.J.F van Haselt dan sebagian datang ke Yende Roon untuk dibina oleh Starrenburg sebagaian ke Windesi bersama Jan Adrian van Balen sebab nanti di tahun 1910 – 1917 banyak guru – guru asal Maluku, Sangihe Talaud dan Minahasa yang datang untuk membangun tanah ini dan bertugas di seluruh kampung dan jemaat – jemaat di Tanah Papua, seperti Amos Pasalbessy, Onesimus Sangaji, Putiray, Nanuleita cs di Tanah Tabi, David Mailoa di Poom Serewen Yapen Utara, Yulian Abrams di Ansus dan Wardo, Marthen Eduard Tamtaleihitu di Sowek, Korido, Sorong Raja Ampat, Latuputih di Biak Timur, Matatula di Teminabuan, Christian Nelwan di Teluk Wondama, Napan Weiname, Biak Barat, Samuel Balantukan di Bagaiserwar dan ratusan guru asal Maluku, Sangihe Talaud dan Minahasa yang namanya tidak disebut bahkan dilupakan ketika Gereja ini merayakan hari ulang tahunnya yang kesekian kali sebab makam mereka sudah ditutupi semak belukar dan tidak dikenal lagi.
Anak Lembah Kebar yang sudah menjadi anak perdamaian di pulau Roon bermimpi pada tanggal 29 Desember 1908 bahwa nanti tiga hari dia akan dijemput dan kembali ke Surga oleh para pengawal Allah sehingga selama tiga hari ia mengatakan kepada orang Yende dan Mena di pulau Roon untuk bertobat dan membuang segala berhalanya serta harus menerima Yesus sebagai Juruselamat sebab Yan sudah melihat Surga dan neraka dalam penglihatannya rohnya di bawa melewati pintu besi, pintu perak dan kemudian pintu emas dan pada saat Yan meninggal nyora Apituley melihat ada dua makhluk aneh yang bersayap berdiri di tempat lonceng gereja tua Bink Kerk Yende membunyikan lonceng pada jam 3 dini hari dan ia juga melihat tangga emas yang turun dari Surga tepat di atas bubungan rumah Yan Ariks Ajamiseba dan pada saat itu meninggallah Yan.
Ketika paginya tanggal 1 Januari 1908 seluruh orang Roon di Yende Mena membuang segala berhalanya, mengguntingkan rambutnya dan bertobat secara massal tanpa dipaksakan, sebab pengaruh mimpi dan pertobatan ini membuat seluruh tanah Papua dimenangkan oleh kuasa injil sebab pada tanggal 3 Desember 1907 zendeling J.L. van Hasselt pulang selamanya ke Tanah Belanda sebab usianya semakin tua dan sulit untuk mendengar lagi sebab hampir 47 Tahun ( 50 tahun ) melayani di Tanah Papua dan dialah zendeling yang bekerja paling lama untuk bangsa Papua sebab beberapa zendeling yang pernah kita tentang kedatangan mereka antara tahun 1880 – 1905, mereka pulang karena dipengaruhi oleh rekan – rekan kerja mereka di Hindia Belanda bahwa percuma bekerja di Tanah Papua, alamnya keras, manusianya keras dan alam di tropis di tanah itu akan membunuh kamu secara perlahan – lahan sehingga pulanglah beberapa zendeling dan tidak kembali ke Papua lagi, mereka memilih bekerja di Halmahera, Sangihe Talaud dan pulau Jawa, di antara mereka ada zendeling Carl Beyer, Rudolf Beyer, W.D. Metz, J.L.D. van der Roest, W.L. Jens, Meeuwijk dan zendeling di bidang kesehatan H. de Haas, sementara mereka yang meninggal di Papua adalah Carl Wilhelm Ottow, Kwawi 9 Novemer 1862, Nyonya J.L. van Hasselt Sylvia Hulstraet, Kwawi 14 Juli 1865, Franzs Mosche, Yomber Roswar Teluk Wondama, 21 April 1868, nyonya Rudolf Beyer Anna Cambier, 3 Juni 1868 i Syabes Roon, Jan Dirk Kamps Anday Manokwari, 25 Agustus 1875, Van Splunder Misol Raja Ampat 1886, Nyonya van Balen Maria Apolonia 1886 dan anaknya, William Hendrijk Woelders, Anday 30 Juni 1892, zendeling Gottlieb Lodewijk Bink, Yende Roon 3 Mei 1899. Mereka ini menjadi pusara abadi di Tanah Papua sebab nanti ketika Perang Dunia II ( 1942 – 1945 ) kita juga akan mengalami nasib malang ketika zendeling Onesimus Werkman dan nyonya di Sarmi, zendeling Philipus Duinker di Babo Bintuni serta beberapa guru Ambon, Sangihe Talaud yag dibunuh tentara Jepang secara kejam dan sadis. Serta beberapa Zendeling yang di tahan oleh tentara Jepang seperti F.C. Kamma di Morotai, I.S. Kijne di Balige Sumatera Utara dan lainnya….
Pada hari sabtu 14 Maret 1908 tibalah zendeling Dereck Bernaard Starrenburg di Jende Roon dan disambut gembira oleh seluruh penduduk yang berpakaian putih dan berbaris sepanjang pantai, baik anak-anak, tua muda, perempuan dan laki-laki… kini sudah datang harapan baru bahwa injil itu mengalahkan kuasa para Mambri, roh-roh penyesat, perbudakan, perampasan hak dan masuk menembus seluruh sukma kehidupan orang Papua di seantero belantara Tanah Nieuw Guinea…. dalam tahun 1908 anak – anak Papua gelombang kedua pun datang ke Depok untuk pendidikan guru dan pertukangan, mereka adalah Wellem Rumainum, Karel Koibur, Yason Sarawan, Barnabas Yufuwai, Christian Nelwan dan Yohan Ariks, yang ke Halmahera Tonci Baransano, Sam Ajamiseba dan Laurents Rumainum
Hari menyampaikan berita kepada hari, bulan dan tahun… masa – masa pertobatan orang Papua terdengar di mana-mana… banyak orang datang dari Yapen, Yaur, Kwatisore, Mambor, Hariti, Napan Weiname, Teluk Wondama, Teluk Bintuni dan Injil itu mulai menjalar seperti kata – kata Tertulianus tokoh Gereja…. semakin dibabat, semakin merambat…
Gempa Bumi yang dasyat di menyebabkan gedung Gereja di Jende Rusak pada tahun 1916, maka pusat zendeling dipindahkan ke bukit Kamadiri Windesi dan Starrenburg menetap di sana, namun pada tahun 1917 Starrenburg memindahkan pos zending dari Windesi ke bukit Aitumieri Miei Teluk Wondama sebab dari hasil pertemuan dengan marga Ramar suku Maniwak pemilik bukit peradaban tersebut… maka akan dibuka Asrama dan Sekolah Pertukangan, dalam tahun 1919 tibalah zendeling D.C.A. Bout membuka Sekolah Petukangan dan mempersiapkan bangunan sekolah, rumah guru, gedung gereja Miei dan pekerjaan itu ditangani oleh anak – anak asli Wondama dibawah pimpinan tukang dari Sangihe Talaut Bastian Lano, Lasut, Gossal, Mangadil, Nelwan, Kumendong dan Tatengkeng sehingga anak – anak Papua yang belajar pertukangan mereka datang ke Korido, Serui, Genyem dan Yoka untuk membangun gedung – gedung sekolah, rumah sakit, rumah guru dan gedung gereja…sementara datang lagi para zendeling untuk membantu pekerjaan pekabaran injil yaitu Franzs Johannes Jens yang membawa injil ke Bosnik 12 Maret 1912, Jacob Bijkerk dan Georg Scheiner yang nantinya ditempatkan ke Hollandia Nimboran 1916 – 1924, D.C.A. Bout seorang zendeling tukang yang nantinya bekerja di Fakfak kemudian pindah ke Miei Teluk Wondama untuk membuka sekolah pertukangan 1919 – 1924 lalu ke Serui untuk membangun rumah sakit di sana. Muilwijk dan J. Wetstein di Fakfak, Kokas, Kaimana dan Inanwatan 1911 – 1924, sebab dalam tahun 1917 F.J.F. van Hasselt sudah membuka sekolah guru di Mansinam CVO ( Civil Volkschool Onderwijzer ), datang juga zendeling H.J. Agter, De Neef sebab untuk sebuah peradaban baru dan injil yang bergerak sangat cepat di seluruh tanah Papua, maka pada tanggal 23 Juni 1923 tibalah tiga orang zendeling yaitu Frits Slump yang nantinya bertugas di Inanwatan dan Serui, Izaak Samuel Kijne directur sekolah guru di Mansinam dan Johannes Eygendaal yang akan di tempatkan ke Babo, Bintuni dan Teluk Wondama.
Setelah semuanya sudah dipersiapkan, maka pada tanggal 25 Oktober 1925 tibalah tokoh pendidik dan pemersatu bangsa Papua.. dominee Izaak Samuel Kijne bersama 35 anak sekolah Noormale School yang dipindahkan dari pulau Mansinam ke bukit Aitumieri Miei Teluk Wondama dan sejak saat itulah Miei manjadi pusat pendidikan dan peradaban orang Papua sejak tahun 1925 – 1942 sebab anak – anak Papua datang dari seluruh tanah ini, untuk dididik di sana menjadi guru sekolah dan guru jemaat supaya ketika tertentu mereka pulang membangun jemaat, kampung halaman dan tanahnya sesuai dengan apa yang dikatakan Kijne… “ Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri..”
Dalam bulan Februari 1924 terbentuklah 9 Resort yang pertama di Tanah ini, yaitu Manokwari Resort Miei Roon, Resort Hollandia – Nimboran, Resort Sarmi, Resort Biak – Numfor, Resort Yapen-Waropen, Resort Sorong, Resort Teminabuan, Resort Inanwatan – Fakfak. Yang kemudian dilanjutkan dengan sekolah – sekolah rakyat yang dibuka di seluruh Tanah Papua antara tahun 1900 – 1933 yaitu ;
Tahun 1908. Maudori dan Korido
- Kaibi, Kubiari, Miei, Pakreki, Sowek, Waar, Ambumi
- Kornasoren, Jamna, Tandia, Warsa, Idoor, Yakati
- Warpaperi, Inanwatan
- Bosnik, Yenmanu, Tablasufa, Wasibu, Warido, Maudori, Nayau
- Opyaref, Wadibu, Kedir, Sorong, Tanah Rata, Werabur, Warianggi
- Ansudu, Takar, Wardo, Ansus, Mambor, Dermena
- Bawe, Inanwatan Sarmi
- Ariepi, Demta, Yafasu, Ormu, Yakari, Yahadian, Kampung Baru, Mamisi, Maryarotu, Mugim, Meos Su, Sor
- Kapudori, Suga
- – 1919. Tobati, Mentembu, Makimi
- Mogotemin, Naramasa
- Armopa, Marur, Taronte
- – 1923. Dusner, Serui-Darat, Woinap
- Korem, Mariaidei, Serui-Laut, Wooi
- Marau, Panduamin, Poom, Saga, Sorendiweri
- Ambai, Ansus, Genyem, Moor, Puragi, Sansundi, Serawin
- Babo, Manoi, Menawi, Muris, Randawaya 1, Randawaya 2, Sarabe, Saweru, Steenkool, Tarfia, Teminabuan, Wari, Wersar
- Ayapo, Aséi, Dwar, Ifar, Kinmom, Konda, Mawesdai, Nau, Opuri, Ormu, Orpambo (Kurudu), Sikowai (Kaipuri), Wanya
- Ambrobenbepur, Ampombukor, Berap, Demoi, Imeno, Inasi, Kabare, Kantumilim, Karambobi, Karnindi, Linsok, Makebon, Mamoribo, M. Mangkara, Sailolof, Seget, Sumberbaba, Sorido, Tablanusu, Waimbrombani, Waupenor
1930 Doyo, Kaptiau, Urbinasopen, Pai, Sanggai, Seritu, Tofooi - Yaweru, Kwauer, Pain, Samberi, Samoni, Verwata, Wararoma
- Mokmer, Mamda, Urfu
- Dondai, Hawe, Yakonde, Meos-Bundi
Sekolah – sekolah peradaban ini, akan mengirim anak – anaknya ke kampus Mansinam, Miei, Serui Laut, Korido, Teminabuan, Sorong, Manokwari, Fakfak, Ifar Gunung, Genyem, Yoka, Padang Bulan, Kota Raja, Dok II, Hamadi sebab setelah Perang Dunia II pusat zending di Kwawi Manokwari dan pusat pendidikan di kaki bukit Aitumieri Miei Teluk Wondama akan dipindahkan ke Hollandia maka pendidikan lanjutan bagi anak – anak Papua dibuka da
hingga GKI berdiri pada tanggal 26 Oktober 1956 dan berita inijil itu masih akan menggema ke Baliem Yalimo, Mamberamo, Waropen Atas, Danau Paniai hingga sekolah guru di Tiom walaupun tahun 1905 Misi Roma Katholik sudah membuka pekerjaan di Merauke dan Mimika hingga Babo Bintuni dan Gereja Protestan Maluku ( GPM ) yang pada tahun 1934 membuka pekerjaan di wilayah Inanwatan, Fakfak, Kaimana dan Kokas serta sebagahagian masyarakat Papua di Raja Ampat, Babo, Aranday, Fakfak, Kaimana, Kokas yang jauh sebelum masuknya injil di Tanah kita, mereka sebahagian sudah memeluk agama islam. Kemudian tahun 1955 tiba juga agama Prinster ( pentakosta ), Advend di Hollandia dan beberapa daerah dan di tahun – tahun kemudian datang juga KINGMI, GIDI, Sidang Jemaat Allah dan lahirlah berbagai agama di Tanah kita kita yang adalah benih yang ditabur di Mansinam telah berbuah di mana – mana.
Ketika tanggal 5 Februari 1955 dalam Perayaan Yubeliam 100 Tahun Emas, satu abad Pekabaran Injil di Tanah Kita dan Konverensi Zending yang terakhir di Kwawi Manokwari setelah 101 Tahun lahirnya GKI di Nederlands Nieuw Guinea maka kita sudah dapat menghitung buah – buah dari pekerjaan pemberitaan injil dan peradaban di Tanah kita.
Ketika anak – anak Papua sekarang sudah saatnya bangkit dan memimpin dirinya sendiri, maka apa yang hendak kita persembahkan untuk tanah dan bangsa Papua ? gereja dan kampungmu ? hidup dan pengabdianmu selama 170 tahun injil di Tanah kita ?
Marilah kita merenungkan kata – kata Kijne pada tanggal 26 Oktober 1956 :
“ Di Tanah ini anda boleh memegang kemudi dari kapal yang namanya Nederlands Nieuw Guina, tetapi bukan anda yang menentukan angin, arus dan gelombang !… Ia, Tuhan sendirilah yang menentukan angin ribut dan angin redah serta menentukan kapal itu meluncur dan mendapati daratan – daratan yang ditemukan dan inilah yang mengherankan sebab barang siapa bekerja di tanah ini dengan iman dan dengar – dengaran ia akan melihat tanda heran yang satu kepada tanda heran lainnya dan inilah menentukan perkembangan… “
Di Tahun 2025 adalah Tahun Kesehatian … Marilah kita berlayar ditengah tantangan dan hambatan yang memantikan kita..!






