JAYAPURA-tabloidpapuabaru.com,- Di ketinggian Bokondini, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, internet mungkin belum sekencang di kota besar. Tapi mimpi anak mudanya sudah melesat jauh. Di sinilah Sagu Foundation hadir, merobohkan sekat geografis lewat dua kunci: bahasa Inggris dan desain grafis.
Jumat sore, 26 Juni 2026. Di ruang presentasi Sagu Foundation mendadak hening. Semua mata tertuju pada GBS Jamieson Ap Balim Wenda. Siswa kelas 11 IPA SMA Yapelin OB Anggen Bokondini itu mempresentasikan hasil magang desain grafis. Karya visualnya logo, poster, konten media sosial ditampilkan layar demi layar.
Itu bukan tugas sekolah biasa. Tetapi hasil 3 minggu magang di Sagu Foundation, lembaga pengembangan SDM Papua yang digawangi Tisha Rumbewas dan Diana Kambuaya bersama timnya.

Di bawah supervisi Zefanya Emilyo Mofu dari tim Social Media Engagement Sagu Foundation, James membuktikan bahwa anak dari Peg
James tak hanya mahir berbahasa inggris tetapi juga mengolah elemen gambar, teks, dan warna. Ia menunjukkan bagaimana desain grafis menjadi bahasa visual untuk menyampaikan pesan efektif mulai dari logo, poster, hingga aset media sosial yang kini dibutuhkan industri kreatif.
“Desain grafis itu komunikasi tanpa batas. Gambar, teks, warna. Kalau dikuasai, anak Papua bisa bikin brand untuk UMKM mama-mama di pasar, bisa bantu gereja, bisa kerja,” jelas Zefanya Mofu.

Sejak awal, Sagu Foundation dikenal aktif mendorong generasi muda Papua percaya diri berbahasa Inggris. Tapi mereka sadar, bahasa saja tidak cukup di era digital.
“Anak-anak kami harus punya hard skill yang langsung bisa dipakai. Desain grafis itu salah satunya. Pasar butuh. Bisa freelance, bisa kerja di agensi, bisa bangun usaha sendiri,”ungkap Diana Kambuaya, Academic Program Manager SAGU Foundation.
“Kami percaya anak Papua harus bisa bersaing secara global. Kuncinya dua: bahasa Inggris sebagai jembatan komunikasi dunia, dan desain grafis sebagai skill yang langsung bisa dipakai kerja,” tambah Diana.
Kolaborasi dengan SMA Yapelin OB Anggen Bokondini jadi pilot project. Sekolah di bawah naungan Yayasan Pelayanan Injili ini mengirim siswa terbaiknya magang. Mereka tidak hanya belajar software, tapi juga dilatih presentasi dalam bahasa Inggris. Dwi-skill yang langka.
Bagi James Wenda, magang ini mengubah arah. Anak sulung dari tiga bersaudara itu, kini fasih berbahasa inggris, kuasai desain grafis dan berani bicara target.
“Setelah lulus saya ingin lanjutkan kuliah. Ada dua universitas yang menjadi pilihan saya yakni universitas Binus dan salah satu universitas ternama di Jepang,”ujar James.
Direktur Sagu Foundation Tisha Rumbewas mengatakan lembaga yang dipimpinnya bersama putra-putri Papua itu, memang sejak awal konsisten mendorong generasi muda berinteraksi lewat bahasa Inggris dengan metode kontekstual kehidupan di Tanah Papua.
“Tak hanya Bahasa Inggris saja, tetapi kami juga mengembangkan sekaligus meningkatkan skill anak-anak muda Papua dibidang-bidang tertentu yang memang dibutukan saat ini, salah satunya desain grafis,”ujarnya.
Kolaborasi dengan Sagu Foundation dan SMA Yapelin OB Anggen Bokondini membuka cakrawala baru bagi siswa yang selama ini akses ke pelatihan skill digital sangat terbatas.
“Ini bukan sekadar magang. Ini investasi SDM. Desain grafis itu komunikasi visual. Kalau anak-anak Papua kuasai desain grafisi, mereka bisa bantu UMKM, gereja, sampai pemerintah daerah bikin konten digital yang positif,” pungkas Tisha Rumbewas.(Redaksi)*





