Laporan : Mozes Baab
JAYAPURA-TABLOID PAPUA BARU-COM,- Ibadah kontekstual Suku Biak atau Babe Oser yang dipusatkan di Gedung Gereja GKI Sion Padang Bulan, Kota Jayapura, Tanah Tabi, menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, kekerabatan, serta jati diri masyarakat Biak.
Hal tersebut disampaikan Pdt. Jhon Baransano, M.Th., usai memimpin ibadah kontekstual masyarakat Biak di Kota Jayapura, Selasa (25/8/2026).
Menurut Baransano, Babe Oser tidak sekadar merupakan kegiatan ibadah, tetapi memiliki makna filosofis yang kuat tentang kesatuan orang Biak dalam satu rumpun, tanpa dibatasi oleh wilayah, status sosial, maupun latar belakang kehidupan.
“Ibadah Babe Oser untuk masyarakat Biak itu adalah kesatuan. Itu nilainya. Orang Biak akan tetap bersatu dalam keadaan dan situasi apa pun,” ujar Baransano.
Ia menjelaskan, kesatuan masyarakat Biak mencakup seluruh wilayah dan komunitas yang memiliki hubungan dengan rumpun Biak, mulai dari Biak Numfor, Aiman, Dupadaido, Tanah Besar Biak, hingga Raja Ampat.
Karena itu, menurut dia, tantangan masyarakat Biak saat ini bukan terletak pada keberadaan orang Biak yang tersebar di berbagai wilayah, melainkan bagaimana menjaga kesatuan dan nilai-nilai yang telah diwariskan para leluhur.
“Yang hilang hari ini adalah kesatuan. Kalau kita bicara Babe Oser, berarti kita harus bersatu,” katanya.
Babe Oser sebagai Ikatan Kekerabatan
Baransano mengatakan, filosofi Babe Oser mengandung nilai hubungan, kekerabatan, kekeluargaan, dan ikatan darah yang melekat dalam diri orang Biak. Nilai tersebut tetap menjadi bagian dari identitas seseorang meskipun telah menikah atau hidup di luar lingkungan asalnya.
“Entah dia sudah berkeluarga, sudah kawin atau kawin keluar, dia tetap menanamkan nilai itu. Karena itu, orang Biak dewasa ini harus kembali bersatu,” ujarnya.
Ia menegaskan, perbedaan pilihan politik maupun berbagai situasi sosial tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persatuan masyarakat Biak.
“Situasi politik, keadaan apa pun, tidak bisa memisahkan orang Biak. Orang Biak harus kembali kepada filosofi itu. Kita harus bersatu. Nilainya hanya kesatuan atau unity. Tidak boleh terpisahkan,” tegasnya.
Menurut Baransano, identitas sebagai orang Biak harus tetap dijaga meskipun seseorang berada di luar wilayah adat dan tanah asalnya.
Ia menyebut nilai-nilai seperti Mambri, Mansonanem, dan Bin Syowi sebagai bagian dari penghargaan terhadap etika, pola hidup, serta tata kehidupan masyarakat Biak.
“Nilai-nilai itu ada pada orang Biak. Babe Oser merangkum semua orang, apakah dia pintar atau tidak, apakah dia Mansonanem, Mambri, atau siapa pun. Semuanya berada dalam satu kesatuan,” jelasnya.
Iman kepada Tuhan sebagai Dasar
Baransano menekankan bahwa persatuan masyarakat Biak harus dibangun di atas iman kepada Tuhan. Menurutnya, nilai adat dan budaya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Biak.
“Nilai yang kita punya sebagai orang Biak adalah iman kita kepada Tuhan. Itu jangan hilang, karena itu dasar yang orang Biak punya,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa banyak orang Biak kini telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari guru, TNI, Polri, anggota legislatif, kepala dinas, hingga kepala daerah.
Namun, keberhasilan tersebut, kata dia, tidak boleh membuat generasi Biak kehilangan akar identitas dan nilai budaya yang diwariskan leluhur.
“Orang Biak harus ingat dia datang dari mana. Dia punya wilayah di Biak sebagai orang Biak. Nilai-nilai orang Biak jangan sampai hilang,” ujarnya.
Ia juga menilai wor, nyanyian, doa, dan ibadah merupakan bagian penting dalam menjaga serta menghidupkan kembali rasa persatuan masyarakat Biak.
“Kalau kita menyanyi wor, kita merasakan sesuatu yang luar biasa. Kita seperti dibawa kepada sebuah kesatuan. Orang Biak membangun filosofinya dari doa, wor, nyanyian, dan ibadah,” katanya.
Kembali kepada Adat dan Jati Diri
Menjelang pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) II masyarakat Biak di Tanah Tabi pada Oktober mendatang, Baransano berharap momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk melakukan refleksi bersama mengenai kondisi masyarakat Biak saat ini.
Ia mengajak masyarakat Biak yang berada di perantauan untuk sesekali kembali ke tanah asal dan duduk bersama membicarakan masa depan masyarakat Biak.
“Bicara tentang kawasan Biak, kumpul semua orang, duduk bersama dan bicara. Bagaimana orang Biak hari ini? Apakah dia menjadi berkat atau tidak? Apakah dia menjadi berkat bagi banyak orang atau justru menjadi beban? Mari kita berbenah,” katanya.
Menurutnya, Mubes harus mampu merumuskan langkah-langkah yang membawa masyarakat Biak kembali kepada jati diri, adat, budaya, dan iman yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
“Kalau kita kembali pada adat budaya dan iman kita, kepercayaan kita, itu baru Babe Oser bisa terjadi dalam kehidupan kita,” tegasnya.***




