• TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • SUSUNAN REDAKSI
Rabu, Mei 20, 2026
  • Login
Papua Baru
  • HOME
  • HEADLINE
  • PAPUA
  • JAYAPURA
  • GKI DI TANAH PAPUA
  • POLHUKRIM
  • DAERAH
  • BUDAYA
  • EKONOMI
No Result
View All Result
  • HOME
  • HEADLINE
  • PAPUA
  • JAYAPURA
  • GKI DI TANAH PAPUA
  • POLHUKRIM
  • DAERAH
  • BUDAYA
  • EKONOMI
No Result
View All Result
Papua Baru
No Result
View All Result
Home PAPUA

Istri dan Anak Gubernur Papua Menolak atau Mengundurkan Diri Sebagai Saksi Kasus Dugaan Gratifikasi

by
13 Oktober 2022
in PAPUA
0
Istri dan Anak Gubernur Papua Menolak atau Mengundurkan Diri Sebagai Saksi Kasus Dugaan Gratifikasi

Tim Kuasa Hukum Gubernur Papua Lukas Enembe

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAPURA.tabloidpapuabaru.com,- Tim Hukum dan Advokasi Gubernur Papua mendatangi

Gedung Merah Putih KPK, untuk menemui Pimpinan KPK, di Jakarta, pada Senin (10/10/2022).

Kedatangan tim yang bertindak sebagai kuasa hukum dari Yulice Wenda, istri Gubernur Papua

Lukas Enembe, dan Astract Bona Timoramo Enembe, anak Gubernur Papua Lukas Enembe, untuk

menyerahkan Surat Menolak/Mengundurkan Diri Menjadi Saksi Karena Undang-Undang, dari

kliennya (Yulice Wenda) dan Astract Bona Timoramo Enembe atas panggilan Penyidik KPK,

tertanggal 29 September 2022, dalam Kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi berupa Penerimaan

hadiah atau janji Lukas Enembe selaku Gubernur Papua Periode 2013 – 2018 dan 2018 – 2023

terkait pekerjaan atau proyek yang bersumber dari APBD Provinsi Papua.

TIM HUKUM DAN ADVOKASI GUBERNUR PAPUA terdiri dari gabungan dari

Advokat di Jakarta dan Advokat di Papua. Adapun advokat yang melakukan pendampingan hukum

dan advokasi terhadap Gubernur Papua dan keluarganya adalah Dr. S. Roy Rening, S.H., M.H.,

Drs. Aloysius Renwarin, S.H., M.H., Petrus Bala Pattyona, S.H., M.H., Cosmas Refra, S.H., M.H.,

Yustinus Butu, S.H., M.H. Antonius Eko Nugroho, S.H., Petrus Jaru, S.H., Herman Renyaan, S.H.,

Suwahyu Anggara, S.H. M.H., Davy Helkiah Radjawane, S.H., Emanuel Herdyanto, S.H., M.H.,

Abdul Aziz Saleh, SH., M.H., Patrisius Pantry Belo Randa, S.H., M.H. , Yosef Elopore, SH., MH.,

Alberth E. Rumbekwan, SH., MH., Thomas CH. Syufi, SH., Elias Pekei, SH., Malpinus Keduman,

SH., dan Michael Himan, SH.

Menolak atau Mengundurkan diri menjadi Saksi Karena Undang-Undang.

Menurut Anggota TIM HUKUM DAN ADVOKASI GUBERNUR PAPUA (THAGP),

Petrus Bala Pattyona, SH., MH, secara yuridis, saksi Yulice Wenda, adalah istri sah dari Lukas

Enembe, dan Astract Bona Timoramo Enembe adalah anak kandung dari Lukas Enembe (yang

telah ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan penerimaan hadiah atau janji oleh penyidik

KPK), sehingga dapat menolak/mengundurkan diri menjadi saksi karena undang-undang,

sebagaimana diatur dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi :

(1) Setiap orang wajib memberikan keterangan sebagai saksi atau ahli, kecuali ayah, ibu, kakek,

nenek, saudara kandung, istri atau suami, anak dan cucu dari terdakwa;

(2) orang yang dibebaskan sebagai saksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diperiksa

sebagai saksi apabila mereka menghendaki dan disetujui secara tegas oleh terdakwa

Hal tersebut diperkuat lagi dengan ketentuan Pasal 168 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981

Tentang KUHAP : Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar

keterangan dan mengundurkan diri sebagai saksi (a) keluarga sedarah atau semenda dalam

garis lurus keatas atau kebawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau Bersama-sama sebagai

terdakwa.

Dijelaskan Petrus Bala Pattyona, bahwa dengan memperhatikan ketentuan tersebut di atas,

dengan ini saksi Yulice Wenda, dan saksi Astract Bona Timoramo Enembe, menyatakan

menggunakan haknya yang diberikan oleh undang-undang, untuk menolak atau mengundurkan

diri sebagai Saksi. “Dan oleh karena itu, kami selaku Tim Hukum mohon penyidik sebagai

pelaksana undang-undang, untuk tidak memaksa dan/atau mengancam saksi Yulice Wenda dan

Astract Bona Timoramo Enembe, untuk memberikan keterangan dalam perkara a quo, yang diduga

dapat melakukan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan secara melawan hukum/melanggar

undang-undang (abuse of power),” kata Petrus Bala Pattyona dalam rilis remi yang diterima media Online ini.

Pada kesempatan ini juga, Dr. S. Roy Rening menambahkan bahwa Tim Hukum juga

sudah bertanya langsung kepada Yulice Wenda terkait dengan dugaan pemberian gratifikasi

tersebut, dan saksi mengatakan, tidak mengetahui sama sekali perihal gratifikasi tersebut. “Saat

kejadian (pada hari diduga ada transfer uang pada 11 Mei 2020), saksi Yulice Wenda sedang

berada di Jakarta, karena menemani suaminya yang sedang sakit. Bagaimana bisa menjadi saksi,

kalau tidak melihat atau mengetahui langsung proses pemberian gratifikasi tersebut,” ujar Roy.

Sedangkan saksi Astract Bona Timoramo Enembe, juga tidak mengetahui sama sekali tentang dugaan

pemberian gratifikasi, karena pada saat dugaan pentrasferan dana satu millyard sedang berada di

Australia, untuk menyelesaikan kuliahnya. “Jadi memang tidak mengetahui sama sekali, adanya

dugaan gratifikasi tersebut. Karena saat kejadian, saksi Astract Bona Timoramo Enembe tidak berada

di kediamannya, di Papua, tetapi di Australia,” tukas Roy.

Dijelaskannya, berdasarkan Pasal 1 angka 26 KUHAP, definisi saksi adalah orang yang

dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan, tentang

suatu perkara pidana yang didengarnya, dilihatnya, atau dialaminya sendiri. “Patut digarisbawahi,

bahwa saksi itu melihat, mendengar dan mengalami sendiri tentang suatu perkara pidana. Jadi

bagaimana mungkin istri dan anak Gubernur Lukas Enembe, menjadi saksi, kalau tidak melihat,

mendengar atau mengalaminya sendiri?,” ujar Roy.

Kearifan Lokal Papua

Sedangkan alasan lainnya, berdasarkan keputusan keluarga besar dan masyarakat Adat Papua,

dimana Keluarga Lukas Enembe termasuk Kepala Suku terbesar di Papua, yaitu Suku Lanny, yang

telah melarang Yulice Wenda dan Astract Bona Timoramo Enembe, untuk pergi ke Jakarta, dan

harus menemai Lukas Enmbe yang sedang sakit serta tidak dapat meninggalkan tanah Papua.

“Karena mereka berdua itu merupakan satu kesatuan dengan Bapak Gubernur Papua Lukas

Enembe. Jadi tidak bisa dipisahkan. Ada kearifan lokal di tanah Papua, yang harus diperhatikan

penyidik KPK untuk memanggil Yulice Wenda dan Astract Bona Timoramo Enembe, sebagai

saksi ke Jakarta. Ini sudah merupakan keputusan masyarakat Adat Papua,” ujar Anggota THAGP

lainnya, Drs. Aloysius Renwarin, S.H., M.H.,

Dijelaskannya, berdasarkan adat budaya di Papua, jika terjadi peperangan, maka yang tidak

boleh disentuh adalah anak, perempuan (istri), orang tua dan orang yang sedang sakit. “Jadi secara

adat di Papua, dengan memperhatikan kearifan lokal yang ada, terhadap istri dan anaknya, tidak

dapat diganggu, dengan adanya pemanggilan KPK, dan dipisahkan dari Pak Lukas Enembe.

Apalagi saat ini, Gubernur Papua sedang sakit dan secara budaya harus dihargai. Terhadap

Gubernur Papua sendiri harus diberikan akses untuk pemulihan kesehatan termasuk dibuka

kembali rekening yang diblokir, supaya bisa dipakai untuk membiyai pengobatannya,” tukas

Aloysius.

Atas dasar alasan-alasan itulah, kedua saksi menyatakan menolak/mengundurkan diri

menjadi saksi karena Undang-Undang, dalam perkara dugaan gratifikasi Gubernur Papua Lukas

Enembe.

Selain itu, Aloysius juga menjelaskan, bahwa Lukas Enembe telah ditetapkan dan dilantik

sebagai Kepala Suku Besar Papua pada tanggal 08/10/2022 oleh Dewan Adat Papua (DAP) lewat

sidang resmi yang dihadiri Ketua Dewan Adat Papua dari tujuh wilayah adat yaitu (1) wilayah

adat Bomberay; (2) Wilayah adat Domberay; (3) Wilayah adat Mepago; (4) Wilayah Adat Lapago;

(5) Wilayah Adat Saireri; (6) Wilayah Adat Tabi; dan (7) Wilayah Adat Animha. Dengan

pengangkatan sebagai kepala Suku Besar ini segala masalah yang berhubungan dengan Lukas

Enembe harus diselesaikan dengan hukum adat dan dilakukan di para Adat disaksikan oleh dewan

Adat Papua dan masyarakat Papua tegas Aloysius.

Sikap Dewan Gereja Papua

Menurut Drs. Aloysius Renwarin, S.H., M.H., dalam pertemuan dengan Para Pimpinan

Gereja (Dewan Sinode Gereja se-Papua) di kediaman pribadi Gubernur Papua, beberapa waktu

lalu, pihaknya melihat kondisi Lukas Enembe, masih dalam keadaan sakit. “Berbicara masih sulit

terbata-bata, air liur masih keluar dari mulut, tangan gemetar dan duduk atau berdiri terlalu lama

tidak kuat. Hal itu terjadi karena beliau pernah mengalami stroke empat kali, operasi ginjal dan

operasi jantung. Selama ini melakukan pengobatan di Rumah Sakit Singapura dan setiap enam

bulan harus melakukan kontrol ke rumah sakit tersebut. Itu sebabnya, beliau menyampaikan

permohonan kiranya ada akses agar dokter dari Singapura bisa masuk ke Papua atau beliau ke

Singapura untuk melanjutkan pengobatan oleh dokter di rumah sakit tersebut,” ujar Aloysius.

Pihaknya sendiri meragukan kliennya (Lukas Enembe) dapat memberikan keterangan dalam

pemeriksaan KPK. “Karena stroke itu menyerang pusat otak klien kami. Bagaimana bisa berpikir

jernih, kalau pusat otaknya, yang diserang? Apalagi ini, sudah empat kali terkena stroke,” ujar

Aloysius. Bila KPK tetap memaksakan, untuk memeriksa kliennya dan melimpahkan kasusnya ke

pengadilan, pihaknya khawatir persidangan tidak akan berjalan mulus. “Karena terdakwa yang

dinyatakan sakit permanen akan dianggap tidak layak, untuk disidangkan atau unfit to stand trial.

Majelis hakim akan mengeluarkan penetapan untuk mengembalikan berkas perkara terdakwa

kepada penuntut umum,” ujar Aloysius.

Kejadian ini, pernah terjadi pada perkara mantan Presiden RI (alm) Soeharto. Saat itu,

penuntut umum tidak pernah bisa menghadirkan mantan Presiden RI tersebut, ke persidangan,

sehingga majelis hakim mengeluarkan sebuah penetapan, yang menetapkan bahwa penuntutan

perkara pidana Soeharto tak dapat diterima, membebaskan Soeharto dari tahanan kota,

mengembalikan berkas perkara ke Kejaksaaan Negeri Jakarta Selatan, dan mencoret perkara

pidananya.

Dengan kondisi Gubernur Papua, yang masih sakit, pihaknya berharap KPK tidak ‘ngotot’

untuk melakukan pemeriksaan kliennya dengan segera. Karena pada dasarnya, KPK memiliki

waktu penyidikan yang cukup. “Jadi untuk apa, memaksakan orang yang sedang sakit, untuk

segera diperiksa?,” ujarnya.

Dijelaskannya, Gubernur Papua sendiri berniat menjelaskan persoalan yang dituduhkan

kepadanya dihadapan KPK, hanya kondisinya masih sakit. “Kondisi itulah yang membuat

keluarga dan masyarakat berjaga dan tidak mengizinkannya keluar rumah,” tukas Aloysius.

Ditambahkannya, dalam pertemuan tersebut, Gubernur Papua sempat mengatakan, bahwa ada

keluarga yang menjaga di depan kediamannya dan mereka siap mati. “Menyikapi situasi tersebut,

Gubernur Papua menyampaikan hanya tokoh gereja yang bisa mencegah hal itu dan menjaga

Papua tetap aman supaya tidak terjadi konflik apalagi penumpahan darah,” kata Aloysius.

Selain menderita sakit kronis, kondisi keluarga Lukas Enembe semakin diperparah, karena

rekening atas nama isteri dan anaknya telah diblokir KPK. Akibatnya, anaknya yang sedang studi

di Singapura tidak bisa melanjutkan Pendidikan, dan sudah berada ada di Papua,” tukas Aloysius.

Ditambahkannya, Yulice istri Lukas Ebembe juga menyampaikan bahwa selama empat bulan

tidak lagi menerima haknya yakni gaji dari Pemerintah, padahal statusnya masih Gubernur Papua.

Lukas Enembe juga menyampaikan sikap herannya, atas penetapan tersangka kasus

dugaan gratifikasi, yang dituduhkan KPK terhadap dirinya. “Karena dalam pertemuan tersebut,

Gubernur Papua menyampaikan bahwa dalam kepemimpinannya, selama delapan kali,

mendapatkan hasil audit dari BPK dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Menurut

klien kami, penetapan tersangka dugaan gratifikasi dan korupsi atas dirinya, sangat tidak masuk

akal,” ujar Aloysius.

Dalam pertemuan dengan 32 orang dari Pimpinan Dewan Gereja Papua (DGP), Pimpinan

dan Pengurus PGGP (Persekutuan Gereja-Gereja di Papua) serta Ketua dan Pengurus API

(Asosiasi Pendeta Indonesia) Provinsi dan Kota Jayapura, para pimpinan gereja tersebut

mendoakan kesembuhan Gubernur Papua. Usai bertemu dengan Gubernur Lukas Enembe, para

pimpinan gereja di Papua mengadakan rapat di Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, dimana hasil

kesimpulan rapatnya, dijabarkan menjadi pernyataan bersama. Dimana isi pernyataan bersama

tersebut, diantaranya :

Pertama, Pimpinan gereja menegaskan bahwa siapapun yang ada di tanah Papua harus tahu

adat budaya, menghormati gereja dan hamba Tuhan. Terkait budaya di Papua, jika terjadi

peperangan, maka yang tidak boleh disentuh adalah anak, perempuan, orang tua dan orang yang

sedang sakit. Gubernur Papua sedang sakit dan secara budaya harus dihargai. Gubernur Papua

harus diberikan akses untuk pemulihan kesehatan termasuk dibuka kembali rekening yang diblokir

supaya dipakai untuk membiayai pengobatannya.

Kedua, Rapat membahas bahwa Lukas Enembe sudah lama menjadi pejabat; mulai dari

ASN, Wakil Bupati, Bupati dan Gubenur Papua dua periode. Beliau sudah memimpin dan

mengelola keuangan sejak lama. Selama ini tidak ada persoalan masalah keuangan. Jika ingin

memperbaiki soal keuangan, mengapa baru sekarang?

Ketiga, Rapat mendesak supaya penegakan hukum fokus pada dugaan gratifikasi dana 1

Milyar. Kasus dugaan gratifikasi 1 Milyar hanyalah pintu masuk untuk menahan Gubernur Papua.

Menolong Bapak Lukas Enembe berarti menolong semua pemimpin di Papua. Penanganan kasus

Lukas Enembe harus hati-hati dan penuh pertimbangan matang. **

Previous Post

Pemerintah Amerika Serikat Masuk Papua Gandeng SAGU Foundation Sosialisasi Program dan Beasiswa

Next Post

Operasi Zebra Cartenz 2022 Memasuki Hari Kesepuluh, 70 Sepeda Motor Terjaring dan 27 Diantaranya Ditilang

Next Post
Operasi Zebra Cartenz 2022 Memasuki Hari Kesepuluh, 70 Sepeda Motor Terjaring dan 27 Diantaranya Ditilang

Operasi Zebra Cartenz 2022 Memasuki Hari Kesepuluh, 70 Sepeda Motor Terjaring dan 27 Diantaranya Ditilang

Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Besok Ketua Sinode Lantik Pengurus DPP Forum Generasi Muda GKI Di Tanah Papua

Besok Ketua Sinode Lantik Pengurus DPP Forum Generasi Muda GKI Di Tanah Papua

20 Mei 2026
Penyerahan SK Pemuda Tani Indonesia, Kabupaten Jayapura Periode 2026-2031

Penyerahan SK Pemuda Tani Indonesia, Kabupaten Jayapura Periode 2026-2031

19 Mei 2026
Ketua Klasis Port Numbay Apresiasi Sikap Dankodaeral X Terkait Penolakan Pembangunan Dermaga

Ketua Klasis Port Numbay Apresiasi Sikap Dankodaeral X Terkait Penolakan Pembangunan Dermaga

19 Mei 2026
Kader GMKI Biak Ajak Denominasi Gereja di Papua Dukung Masyarakat Adat

Kader GMKI Biak Ajak Denominasi Gereja di Papua Dukung Masyarakat Adat

18 Mei 2026

Recent News

Besok Ketua Sinode Lantik Pengurus DPP Forum Generasi Muda GKI Di Tanah Papua

Besok Ketua Sinode Lantik Pengurus DPP Forum Generasi Muda GKI Di Tanah Papua

20 Mei 2026
Penyerahan SK Pemuda Tani Indonesia, Kabupaten Jayapura Periode 2026-2031

Penyerahan SK Pemuda Tani Indonesia, Kabupaten Jayapura Periode 2026-2031

19 Mei 2026
Ketua Klasis Port Numbay Apresiasi Sikap Dankodaeral X Terkait Penolakan Pembangunan Dermaga

Ketua Klasis Port Numbay Apresiasi Sikap Dankodaeral X Terkait Penolakan Pembangunan Dermaga

19 Mei 2026
Kader GMKI Biak Ajak Denominasi Gereja di Papua Dukung Masyarakat Adat

Kader GMKI Biak Ajak Denominasi Gereja di Papua Dukung Masyarakat Adat

18 Mei 2026
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • SUSUNAN REDAKSI
tabloidpapuabaru.com

© TABLOID PAPUA BARU | 2020

No Result
View All Result
  • Home
  • PAPUA
  • JAYAPURA
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • EKONOMI

© TABLOID PAPUA BARU | 2020

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In