JAYAPURA -TABLOID PAPUA BARU. COM, – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) penyalur Solar subsidi di Kota Jayapura, Papua, dalam beberapa bulan terakhir menjadi sorotan masyarakat. Kondisi tersebut dikeluhkan para sopir angkutan, kendaraan logistik, hingga pengguna kendaraan pribadi.

Menanggapi keluhan tersebut, Admin sekaligus Pengawas SPBU APO Jayapura, Sri Lestari, mengungkap sejumlah faktor yang dinilai menjadi penyebab meningkatnya antrean Solar subsidi.
Sri menegaskan, pihak manajemen SPBU tidak menginginkan terjadinya antrean panjang. Namun, meningkatnya jumlah konsumen Solar subsidi membuat kapasitas pelayanan SPBU kewalahan.
Menurutnya, salah satu faktor utama adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite. Kondisi tersebut, kata Sri, mendorong sebagian pengguna kendaraan yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih ke Solar subsidi yang harganya relatif lebih murah.

“Faktor pertama itu semenjak harga Dexlite naik, harga nonsubsidi naik. Itu kan semua berlari ke subsidi. Semua cari yang lebih murah,” ujar Sri Lestari kepada wartawan di SPBU APO Jayapura, Jumat (18/9/2026).
Peralihan tersebut tidak hanya dilakukan kendaraan pribadi. Sejumlah kendaraan operasional toko dan kendaraan lainnya yang sebelumnya menggunakan Dexlite juga disebut mulai beralih menggunakan Solar subsidi.
Pada saat yang sama, kebutuhan Solar untuk kendaraan angkutan barang dan logistik turut meningkat, termasuk dump truck dan truk pengangkut material seperti pasir dan batu.
Hanya Sejumlah SPBU Layani Solar Subsidi
Sri menyebut persoalan antrean tidak hanya terjadi di SPBU APO, tetapi juga di sejumlah SPBU lain yang masih melayani penyaluran Solar subsidi.
Menurutnya, jumlah SPBU penyalur Solar subsidi di Kota Jayapura relatif terbatas, sementara jumlah kendaraan dan aktivitas transportasi terus mengalami peningkatan.
“Bukan cuma di kita, tapi semua SPBU yang jual Solar mengalami hal yang sama. Di Jayapura ini yang jual Solar cuma beberapa SPBU. Kita yang menjual Solar juga kewalahan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat antrean kendaraan dapat berlangsung panjang dan membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan pelayanan.
SPBU APO Perketat Pengawasan
Terkait adanya dugaan praktik langsir maupun kendaraan yang berulang kali mengisi Solar untuk kemudian dijual kembali, Sri memastikan SPBU APO menerapkan pengawasan terhadap setiap kendaraan yang melakukan pengisian.
“Kita kalau di sini paling tegas. Apalagi pengawas-pengawas di dalam itu tegas soal mobil yang bolak-balik, apalagi langsir. Kalau tidak masuk sesuai aturan, kita usir,” tegasnya.
Ia menjelaskan, setiap konsumen diwajibkan menunjukkan STNK asli serta barcode MyPertamina. Data pada sistem harus sesuai dengan identitas kendaraan, termasuk foto kendaraan dan nomor polisi yang terdaftar.
Sri mengatakan, petugas juga menemukan upaya penyalahgunaan berupa penggunaan atau pergantian pelat nomor kendaraan untuk mengelabui sistem sehingga kendaraan dapat melakukan pengisian berulang.
Jika ditemukan ketidaksesuaian data maupun indikasi pelanggaran aturan, petugas akan meminta kendaraan tersebut keluar dari antrean.
Pembagian Jam Pengisian
Untuk membantu mengurai kepadatan antrean, SPBU APO menerapkan pembagian waktu pelayanan berdasarkan jenis kendaraan.
- Kendaraan logistik: pagi hingga sore hari.
- Kendaraan pribadi: pukul 09.00–18.00 WIT.
- Dump truck dan truk besar: pukul 18.00–22.00 WIT.
Namun, penerapan sistem tersebut belum sepenuhnya mampu menghilangkan antrean.
Menurut Sri, sebagian sopir dump truck memilih datang dan mengantre sejak pagi karena khawatir tidak mendapatkan Solar pada malam hari. Akibatnya, antrean kendaraan berat bercampur dengan antrean kendaraan lainnya dan berlangsung hingga sore.
Pihak SPBU APO berharap pemerintah bersama Pertamina dapat mengevaluasi kondisi tersebut, termasuk mempertimbangkan penambahan kuota Solar subsidi serta memperbanyak SPBU penyalur Solar di Kota Jayapura.
Penambahan kuota dan titik penyaluran dinilai dapat membantu mengurangi konsentrasi kendaraan pada sejumlah SPBU yang selama ini menjadi tempat utama pengisian Solar subsidi.***(BK)





