JAYAPURA. tabloidpapuabaru.com,- Pelatihan ASIK (Aplikasi Sehat Indonesia – Ku) Bagi Tenaga Kesehatan di Tanah Papua, yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua bekerjasama dengan Unicef, dinilai sangat baik dan memudahkan para petugas kesehatan di Tanah Papua untuk melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan imuniasi rutin.
Namun ada juga hambatan atau kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, khususnya daerah otonom baru (DOB) Provinsi Papua Pegunungan.
Salah satu peserta pelatihan asal kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua Pegunungan, dr. Susana Wetipo saat diwawancarai media online ini Senin (5/6) dilokasi kegiatan, Hotel Horizon Kotaraja, mengakui kendala yang dihadapi oleh petugas kesehatan selama ini didaerah Otonom Baru rata-rata hampir sama yaitu terkait susahnya akses jaringan internet.
“kami memberikan apresiasi karena dengan hadirnya aplikasi ASIK ini, dapat bermanfaat bagi kami petugas kesehatan untuk melakukan pengimputan data, hanya saja di daerah kami sangat susah jaringan internet” terangnya.
dr. Susana Wetipo mengungkapkan apiliasi ASIK memberikan manfaat yang sangat baik terutama pihaknya dalam pengimputan data saat melakukan pelayanan nanti kepada masyarakat.
“ kami para tenaga kesehatan dilapangan menyambut baik hadirnya aplikasi ASIK ini, Sebab sebelumnya kami melakukan pengimputan data di Pos Yandu, kemudian hasil dalam pelayanan itu yang biasanya kami tuangkan dalam tulisan dalam buku register (manual).” paparnya.
Tetapi dengan adanya aplikasi ASIK ini, juga membantu kami sehingga pengimputan data anak dari usia o bulan sampai dengan usia bayi balita sampai dengan dewasa itu dapat terpantau didalam satu sitem.
Juga memudahkan bagi orang tua pada saaat nanti pengecekan status imunisasi anaknya atau juga mau masuk sekolah disitu didalam aplikasi itu sudah ada semua.
“ jadi seperti itu, ada tiga manfaatnya yang pertama memudahkan para petugas kesehatan, yang kedua memudahkan orang tua dalam mengecek kembali status imunisasasi anak, ketiga melihat cakupan dalam satu wilayah misalnya kami dari kabupaten Jayawijaya kami punya cakupan imunisasi sepertia apa,” bebernya.
Dari situ juga bisa menilai apabila terjadi KLB, maka bisa liat disitu juga, apa cakupan yang terendah imunisasi apa yang terendah dan lain-lain.
Ia berharap ada perhatian seriu dari pemerintah agar akses jaringan internet di daerah DOB dapat dipasang sehingga pelayanan kesehatan dan pelayanan umum lainnya dapat terlaksana dengan baik.
“ Sampai saat ini tidak ada jaringan internet, Tahun kemarin (2022) kami dibantu oleh pemasangan tower BTS tetapi tidak tidak dilanjutkan dan terhitung dari Januari sampai saat ini tidak ada,” terangnya.
Untuk itu dr. Susana Wetipo berharap adanya satu hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah melalui Dinas kesehatan dan Kominfo untuk memudahkan proses pelayanan kesehatan di wilayah pelayanan Daerah Otonom Baru.(zes)**






