JAYAPURA. tabloidpapuabaru.com,- Dinas Kesehatan Provinsi Papua bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Internasional Unicef menggelar pelatihan atau sosialisasi program Aplikasi Asik (Aplikasi Sehat Indonesia Ku) bagi petugas kesehatan di Provinsi Papua dan 3 provinsi DOB lainnya masing-masing, Provinsi Papua Pegunugan , Papua Tengah dan Papua Selatan.
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari (5-6) di Hotel Horizon Kotaraja Kota Jayapura.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Elia Tabuni , saat diwawancarai media online ini dilokasi kegiatan Senin (5/6) mengatakan, sangat bersyukur sekali karena pihaknya telah mewujudkan sebuah pelatihan yang sangat dinantinantikan yaitu pelatihan bagi tenaga kesehatan untuk mengelola aplikasi ASIK.
Dimana menurutnya Program Aplikasi ASIK itu sendiri adalah sebuah program yang lebih focus pada pencatatan dan pelaporan kegiatan imuniasi rutin.
Elia Tabuni menyebukan, sesuai dengan visi misi menteri kesehatan saat ini bahwa setiap program atau kegiatan kehatan ditransformasi dalam digitalisasi elektronik, sehingga itu mengacu pada setiap layanan terutama kepada program rutin Imuniasis. Sofware yang dulunya dipakai dan sebut WWS tidak lagi digunakan dan dirubah dengan aplikasi ASIK ini,” terangnya.
“ jadi aplikasi Asik ini nantinya terintegrasi dengan Disdukcapil, sehingga setiap anak-anak yang akan di imunisasi, itu dia akan dimintakan nomor inuk kependudukan (NIK) baik itu dari orang tua maupun dari ibu atau anak tersebut akan di data sehingga cakupannya itu, cakupan rutin pertama maupun dosis kedua dan selanjutnya akan diikuti lebih mudah untuk dipantau,” pungkasnya.
Disebutkan di Provinsi Papua, 29 kabupaten/ kota itu baru Kabupaten Merauke dan Kabupaten Keerom yang sudah mencapai 100 persen. Artinya semua puskemas mereka suda menerapkan aplikasi ini termasuk rumah sakit.
Sementara di 27 kabupaten/ kota termasuk kota Jayapura belum menerapkan, sebagian sudah menerapkan tetapi masih banyak yang belum menerapkan,” ujarnya.
Hal itu disebabkan oleh berbagai kendala. Salah satunya seluruh puskemas dan rumah sakit belum memiliki koneksi jaringan internet yang baik.
“ya kita tau bersama di Papua inikan banyak factor yang menyebabkan, salah satu kendalanya adalah sebagian puskesmas maupun rumah sakit belum meiliki koneksi internet yang baik, kemudian SDM untuk mengelola, system pengelolaan mengimput data-data yang belum baik sehingga masih mengalami kesulitan, lalu juga disisi lain ada situasi daerah yang kurang aman sehingga tidak bisa melaksanakan kegiatan rutin,” ungkapnya.
Namun kata Elia Tabuni, bahwa dengan kendala tersebut pihaknya terus melakukan perbaikan. “ kendala ini kami mencoba untuk pelan-pelan mendekati paling tidak ada pelaporan khusunsya di daerah yang dianggap aman, jadi kami prioritaskan di daerah yang aman.
Dinas Keehatan kata Elia Tabuni terus mencoba memperkenalkan aplikasi ini kepada semua petugas kesehatan, supaya mereka bisa mengoprasionalkan program ini.
Walaupun Aplikasi ini suda diimplementasikan sejak tahun 2022, sudah Runing dan sekarang kita focus ke wilayah-wilayah DOB terutama di Lapago dan Meepago karena sebagian besar daerah ini belum jalan sama sekali,” terang Elia Tabuni.
Elia Tabuni berharap dengan adanya daerah DOB ini muda-mudahan ada perbaikan. Melihat ada perwakilan cukup banyak di puskesmas maupun di dinas sehingga kami berharap kedepan paling tidak program ini bisa diimplementasikan dalam pelayanan,” harapnya.(zes)**






