NABIRE-tabloidpapuabaru.com,- Wakil Ketua Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat, Citra Dyah Prastusti, menekankan pentingnya representasi perempuan yang nyata dalam liputan media. Menurutnya, jurnalis harus bekerja lebih keras menemukan narasumber perempuan, bukan hanya mencari yang “gampang-gampang” saja.
Hal ini disampaikan dalam workshop “Gender, Kesejahteraan, dan Keberagaman dalam Konten Media” pada Festival Media Se-Tanah Papua di Kabupaten Nabire, Rabu (14/1/2026). Workshop yang dimoderatori Natalya Yoku ini diikuti pelajar, mahasiswa, dan para jurnalis dalam festival yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP) periode 13-15 Januari 2026.
Citra menjelaskan bahwa poin penting dari workshop tentang gender dan konten adalah pentingnya perusahaan media memastikan ada representasi perempuan yang nyata dalam liputan.
“Jadi misalnya jadi jurnalis, kadang-kadang liputannya dengan narasumber cari yang gampang-gampang saja. Jadi kadang-kadang yang muncul laki-laki lagi, yang sering muncul laki-laki,” ujar Citra dalam wawancara.
Ia menegaskan bahwa narasumber perempuan sebenarnya ada, hanya belum dicari dengan sungguh-sungguh.
“Kita perlu bekerja lebih keras lagi untuk menemukan narasumber perempuan. Ada pasti di luar sana, kita hanya belum cari lebih keras lagi. Kalau tidak ada, maka itu menjadi tugas kita bersama untuk memastikan ada perempuan-perempuan yang juga bersinar, layaknya menjadi narasumber,” jelasnya.
Citra mengapresiasi kehadiran sesi gender dalam Festival Media Se-Tanah Papua yang merupakan festival perdana ini.
“Ini adalah festival perdana. Karena itu penting untuk menetapkan standar setinggi-tingginya, jadi festival berikutnya bisa lebih baik lagi. Karena itu saya mengapresiasi ada sesi gender di dalam festival kali ini, karena ini menunjukkan bagaimana panitia melihat hal ini penting untuk dibahas di workshop media,” katanya.
Citra berharap sesi seperti ini terus ada di festival-festival media selanjutnya karena akan mendorong media untuk membuktikan ada representasi perempuan di media.
“Untuk selanjutnya saya harap ada sesi seperti ini di festival-festival selanjutnya. Karena itu juga akan mendorong media untuk melakukan atau membuktikan ada representasi perempuan di media,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketika narasumber yang muncul di media lebih beragam, maka audiens-nya juga akan beragam untuk merefleksikan sikap media tersebut terhadap keberagaman.
Citra menekankan bahwa aspek keberagaman merupakan bagian dari upaya akuntabilitas media.
“Aspek keberagaman sebagai bagian dari upaya akuntabilitas. Karena saat ini semua hal, semua kegiatan yang melibatkan pendanaan misalnya, akan butuh aspek gender menjadi perhatian penting dari media,” pungkasnya.
Workshop ini merupakan bagian dari Festival Media Se-Tanah Papua yang berlangsung 13-15 Januari 2026, dihadiri 149 jurnalis dari enam provinsi di Tanah Papua, dengan berbagai rangkaian kegiatan termasuk pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, dan malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026. (Renaldo Tulak)***






