BIAK-tabloidpapuabaru.com,- Mananwaren (Penjaga) Pulau Biak Arnold Dony Ronsumbre mengatakan Peta kekuatan dunia kini tidak lagi hanya tertuju pada penguasaan wilayah teritorial darat, melainkan telah bergeser ke arah dominasi ruang angkasa. Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Biak kini menjadi “titik panas” (hotspot) baru yang menarik perhatian para pemimpin besar dunia, mulai dari Donald Trump, Vladimir Putin, hingga Xi Jinping.

Rilis yang diterima Redaksi Rabu, 4 Februari 2026, Arnol menyebutkan kepentingan besar hadir di Biak membuat rakyat resah dan bertanya-tanya ada apa dengan tanah Biak,,? Ada apa dengan pulau Biak,,?
- Magnet Geopolitik : Mengapa Biak Diperebutkan?
Berdasarkan data operasional, lahan yang dikelola oleh lembaga riset nasional (dahulu LAPAN, kini di bawah koordinasi BRIN) mencakup area strategis yang mencakup landasan peluncuran, pusat kontrol, dan gedung integrasi.

Keunggulan Ekuatorial: Posisi Biak yang berada tepat di garis khatulistiwa memungkinkan peluncuran satelit dengan efisiensi bahan bakar maksimal dan jangkauan orbit yang lebih luas.
Target 2026: Indonesia secara resmi telah merencanakan konstruksi skala besar untuk stasiun antariksa ini pada tahun 2026.
Perebutan Pengaruh: Gambar para pemimpin dunia (AS, Rusia, China) yang mengarahkan perhatian pada titik koordinat Biak mengindikasikan bahwa wilayah ini adalah aset strategis dalam Space Race abad ke-21.
2. Ancaman Militerisasi dan Risiko Konflik Global
Analisis geopolitik menunjukkan bahwa penguasaan atas bandar antariksa di Indo-Pasifik bukan sekadar urusan sains. Siapa pun yang memiliki akses atau pengaruh kuat di Biak akan memiliki keuntungan dalam:

Intelijen Global: Kemudahan menempatkan satelit pengintai di orbit rendah bumi.
Sistem Pertahanan: Potensi alih fungsi fasilitas peluncuran sipil menjadi infrastruktur militer strategis.
Ketegangan Regional: Kompetensi antar blok (Barat vs BRICS) di wilayah ini dapat memicu eskalasi yang mampu menjadi sumbu bagi konflik skala besar jika kedaulatan Indonesia diintervensi oleh ambisi global.
3. Sisi Gelap Kemajuan: Masyarakat Adat Sebagai Korban
Di balik rencana pembangunan yang “dikebut” ini, terdapat realitas pahit bagi masyarakat adat Biak. Narasi mengenai kemajuan teknologi seringkali membayangi hak-hak mendasar mereka:
Kehilangan Tanah Ulayat: Area luas yang dipetakan sebagai “Area Lahan LAPAN” seringkali berhimpitan dengan wilayah sakral dan ruang hidup masyarakat adat.
Risiko Ekologis: Peluncuran roket berisiko menghasilkan polusi suara dan zat kimia yang merusak tatanan alam Papua yang sensitif.
Marjinalisasi: Masyarakat lokal terancam hanya menjadi penonton atau bahkan korban pengungsian di tengah ambisi teknologi tinggi yang tidak menyentuh akar rumput.
Kesimpulan Analisis:
Pembangunan Bandar Antariksa Biak pada 2026 adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menempatkan Indonesia di peta teknologi dunia; di sisi lain, ia menarik predator geopolitik ke tanah Papua. Tanpa perlindungan terhadap masyarakat adat dan diplomasi yang independen, Biak berisiko menjadi ladang pertempuran bagi kekuatan global yang haus kekuasaan.***






