• TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • SUSUNAN REDAKSI
Jumat, April 17, 2026
  • Login
Papua Baru
  • HOME
  • HEADLINE
  • PAPUA
  • JAYAPURA
  • GKI DI TANAH PAPUA
  • POLHUKRIM
  • DAERAH
  • BUDAYA
  • EKONOMI
No Result
View All Result
  • HOME
  • HEADLINE
  • PAPUA
  • JAYAPURA
  • GKI DI TANAH PAPUA
  • POLHUKRIM
  • DAERAH
  • BUDAYA
  • EKONOMI
No Result
View All Result
Papua Baru
No Result
View All Result
Home GKI DI TANAH PAPUA

Kilas Perjalanan Hidup Pdt. Willem Maloali

by
6 Maret 2022
in GKI DI TANAH PAPUA
0
Kilas Perjalanan Hidup Pdt. Willem Maloali
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pdt Willem Maloali

Dilahirkan pada tanggal 27 Desember 1934, di Yabuai  Yahim Sentani. Tiga belas tahun tinggal bersama orang tua dan menjadi anak Sentani (1934-1947).

Sekolah Rakyat di Ajau 1944-1947

Di samping mengenyam pendidikan “Sekolah Rakyat”/volksschool, di Ifar Pulau Ajau. Wim mendapat pengajaran formal di kelas oleh guru, tetapi tidak mengabaikan ajaran kedua orang tuanya untuk menjadi anak Yabuai asal Sentani yang sesungguhnya dengan pengetahuan tentang adat dan ketrampilan budaya Sentani yang kelak akan menjadi pegangan hidupnya. Seperti nilai-nilai etika, norma yang begitu melekat pada seorang anak laki-laki.

JVVS di Joka, 1947-1950

Setelah menamatkan sekolah di Ifar, kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah sambungan putra (Jongens Vervolgsschool-JVVS) di Joka pada tahun 1947-1950.

Pendidikan Asrama/Internat selama tiga tahun di Joka  inilah yang Wim mendapatkan satu kata kunci yang dipakai sebagai “Kohesi Sosial” atau hubungan sosial untuk membentuk kepribadian kita menjadi satu dalam Satu pikiran, satu iman, dan satu bangsa. Hal ini terlihat dalam kehidupan berasrama sebagai satu perekat, yakni makan bersama, kerja betsama, belajar bersama, nyanyi bersama serta doa bersama. Dalam pengajaran tentang kohesi sosial, kami anak-anak di JVVS diajarkan bagaimana mempelajari Teologi atau pengetahuan agama (kepercayaan); jati diri dan ilmu serta ketrampilan atau intelektualitas yang terarah dan bertanggungjawab kepada lingkungan dan dimanapun kami kelak bekerja.

Pendidikan di OVVO Serui, 1950-1952

Ada hal menarik bagi Wim ketika mau melanjutkan pendidikan MILO atau setingkat SMP tetapi orang tua berpikir masuk pendidikan MELU (Jàgung) bahasa Sentani. Sehingga Wim diminta masuk ke sekolah guru Opleidingschool Voor Volks Onderuryzes (OVVO) di Serui pada tahun 1950-1952. Bapak Maloali katakan sekolah ini seperti sekolah guru, tapi bukan seperti Sekolah Guru Bawa (SGB). Jadi semacam kursus untuk menjadi guru. Walaupun kursus. tapi bobotnya lebih dengan lulusan sekolah guru. Setiap tamatan Opleiding/khursus atau diploma khursus mendapatkan Akta mengajar jadi guru guna dipersiapkan untuk ditempatkan pada sekolah-sekolah di kampung. Guru yang belajar atau khursus di OVO belajar bahasa melayu selama 2 tahun,  sedangkan di ODO belajar bahasa Belanda selama 3 tahun.

Grj W.Maloali di Takar Sarmi, 1952-1953

Setelah tamat dari OVVO di Serui, Wim ditempatkan ke Kampung Takar Resort Sarm dan berjumpa dengan Guru L.Werinusa dan Guru Semon. Wim direkrut dari sesama rekan guru untuk mengikuti pendidikan pendeta di Serui.

Wim Maloali Masuk Sekolah Teologia di Serui

1954 – 1958

Dari tengah-tengah tugas dan kerja di Kampung Takar, Wim dipanggil masuk Sekolah Teologia di Serui. Disana Wim berjumpa G.A. Lanta, S.Chaay, E.Suebu, S.Tokoro, A.Prawar, D.Prawar, R.Rumbiak, R.Quiko, Akobiarek, Wabiser, Rumpaisun, Robaha, Marandey, G.Rumaropen, Merino dan J.Mamoribo.

Setelah tamat dan ditabiskan sebagai pendeta pengajar dari sekolah pendeta di Serui, Wim ditugaskan ke Ransiki. Disana  Pdt Maloali bertugas bersama Pdt H.Gysbers dengan membuka sekolah penginjilan dengan nama SPG “El-Roi” yang artinya, Disini Kulihat Dia yang melihat Aku”, sampai tahun 1963.

Pdt W.Maloali Tahun 1964 di tarik ke Resort Hollandia

Bapak Wim ditarik kembali ke Resort Hollandia untuk dipersiapkan keberangkatan ke Isrukawa Collect Tokyo Jepang bersama Pdt.Wabiser. dan Pdt S.Chaay melanjutkan studi ke Jerman tapi tidak jadi berangkat karena, sementara mempersiapkan dokumen keberangkatan Indonesia masuk dengan merubah semua program pemerintah yang. berdampak kepada program gereja. Ditugaskan ke Resort, menjabat sebagai sekretaris Resort Hollandia-Nimboran dan Pdt G.A Lanta sebagai Ketua. Pada tahun 1964 Pdt W.Maloali dipanggil untuk menjadi dosen di Sekolah Teologia Abepura sampai tahun 1968. Dalam tugas sebagai dosen inilah dilihat kemampuan Bapak Maloali oleh DR.Tjakraatmaja sebagai rektor mengirim Wim guna melanjutkan studi pada tahun 1968-1971 ke STT Duta Wacana Jogjakarta. Disana Pdt W. Maloali mengambil program non-gelar (diploma) untuk studi khusus tentang Oikumenika dan Pekabaran Injil. Walaupun mengikuti program diploma, Maloali menuliskan Karya ilmiahnya dengan judul “Pekabaran Injil, Tugas Pokok Gereja Dengan Dasar Universalisme Perjanjian Lama Menjadi Dasar Pekabaran Injil Dalam Perjanjian Baru. Tulisan ilmiah ini mengukuhkan dirinya sebagai “Pemegang Lisensi” dibidanh Pekabaran Injil dati STT Duta Wacana. Lembaga Pendidikan Tinggi Agama ini mengesahkan keahliannya dalam bidang Pekabaran Injil.

Pdt W.Maloali terpilih Ketua Sinode

GKI di Irian Barat 1971

Argapura, 28 Januari 1968

Ada hal menarik, sekaligus duka dibalik terpilihnya Pdt Willem Maloali sebagai Ketua Sinode GKI di Irian Barat. Mengapa duka itu datang menyelimuti Pendeta muda GKI, sebutan Domine FJS Rumainum kepada Wim (sapaan akrab Domine FJS kepada Pdt Willem Maloali). Setelah melakukan turney ke beberapa sekolah dan lembaga-lembaga dibawa Sinode GKI, seperti STT Abepura, BKIA Joka, P3W Padang Bulan, Kompleks pendidikan Kotaraja dalam, Percetakan GKI Kloofkamp,  Mess GKI APO dan kembali kantor Sinode Argapura. Setibamya dikantor Domine FJS Rumainum menjumpai Wim didepan ruangan Ketua Sinode. Wim bagaimana, apa yang disampaikan, mari masuk ke ruangan, jawab Wim Bapak cukup disini saja, ada hal yang saya mau sampaikan, iya bicara sudah Wim. Bapak Ketua, saya dapat ijin belajar ke STT Duta Wacana Jogjakarta, untuk maksud itu saya mohon kesediaan Bapak Ketua untuk dapat memimpin ibadah syukur saya nanti malam di rumah kompleks STT Abepura. Sahut Domine FJS Rimainum, Wim pulang nanti malam Bapak datang ke rumah. Siang ini Bapak ada rapat lengkap BPAM, tapi suatu saat  Wim akan menempati tempat ini. Ditengah rapat berjalan, tiba-tiba Domine FJS Rumainum mengalami serangan jantung dan diantar ke Rumah Sakit Dok-II tapi tidak tertolong dan Domine FJS Rumainum  menghembuskan napas terakhir, ketika masih dalam perjalanan.

 Ketika kabar duka ini didengar Wim, langsung datang ke RSUD dok 2 Jayapura dan mengantarkan jenasah Domine FJS Rumainum kerumah dok-V. Perpisahan pun terjadi dengan Jenasah Domine FJS Rumainum diberangkatkan ke Biak dan keesokan harinya pemakaman dilaksanakan di Yenures Biak.

Kesedihan tidak membuat Pdt Maloali putus asa tapi, dengan iman yang kokoh menguatkan Bapak Willem serta keluarga dapat melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Lewat pendidikan di STT Duta Wacana menambah

Keahlian, sehingga membuat Wim memiliki pemikiran-pemikiran cerdas sebagai wujud pekabaran injil. Menurutnya Injil bukan semata-mata soal teologia, tapi terkait erat dengan kehidupan nyata atau riil.Tak heran ketika Pdt Willem Maloali terpilih menjadi Ketua Sinode GKI di Irian Barat pada Sidang Sinode Ke-V di Biak. Program utama dikenal dengan “Mission in Development”, bahwa Pekerjaan Pekabaran Injil adalah bukan dikerjakan dalam bentuk pekerjaan gereja, tapi apa yang dibuat melalui pekerjaan kita”.

Walaupun program utama menjadi pilihan yang harus dilakukan karena sejalan dengan konsep pembangunan yang menguat pada saay itu, yakni membangun manusia seutuhnya lewat pembangunan lima tahun. Wim mengatakan gereja tidak boleh tertinggal dalam hal ini, Injil harus diaplikasikan dalam pembangunan demi terwujudnya kesejahteraan umat dalam iman dan pengharapan.

Misi gereja secara teologis adalah melayani Tuhan lewat alat kelengkapan Gereja Kristen Injili di Irian Barat. Artinya, gereja tidak melulu menangani urusan teologis, tapi gereja harus berkiprah secara komprehensif. Gereja harus hadir dan bekerja melakukan pelayanan, baik secara jasmania maupun rohani.

Hantamann berbagai gelombang persoalan yang mengepung GKI menjadi pergumulan berat yang dihadapi Pdt Maloali sejak menjadi Ketua Sinode GKI di Irian Barat. Wim mencoba memikirkan langkah-langkah alternatif untuk menolong warga jemaatnya dan juga menunjang rencana kerja pemerintah.

Pendirian Puspenka pada tahun 1971 dengan bantuan dana dari “Brot for de Weld atau Brood voor de Weteld” dari Stuttgart Jerman dengan anggaran senilai IBRp 178 juta, antara lain, merupakan salah satu terobosan yang ditempuh. Awalnya, Puspenka didirikan dengan tujuan untuk melatih anggota-anggota jemaat secara komprehensif dalam berbagai bidang usaha, seperti pertanian, peternakan dan pertukangan yang memungkinkan mereka bIsa mandiri. Sepanjang mengikuti proses pendidikan yang baik di Puspenka para peserta, setidaknya memperoleh keahlian plus. Pertama, pengetahuan yang baik dan benar tentang Tuhan, artinya mereka akan belajat dengan sungguh untuk mengenal Tuhan. Kedua, mereka akan belajar untuk mengenal jatidirinya, dalam pengertian meteka akan memperoleh pengetahuan agar menjadi tahu siapa dirinya yang sesungguhnya. Sehingga identitas itu tetap terpelihara. Ketiga, mereka juga akan memperoleh berbagai ketrampilan untuk berusaha dibidang pertanian, peternakan dan pertukangan.

Salah satu soal yang pelik semasa kepemimpinan Pdt W.Maloali adalah dualisme sikap dan pandangan politik rakyat Irian Barat, yakni pro dan kontra Republik Indonesia. Sikap dan pandangam yang tentu saja merupakan sebab-akibat dari kondisi sosial dan ekonomi jemaat. Waktu itu, keadaan ekonomi jemaat demikian amburadul. Hal ini tetjadi karena saat itu Irian Barat dalam situasi peralihan politik.

Akibatnya tercipta kecenderungan gereja pada tiga hal besar, yakni Biblisisme adalah istilah uang digunakan secara berbeda oleh penulis mengenai interprestasi alkitabiah; Sinkretisme adalah suatu upaya untuk menyatuhkan agama-agama diseluruh dunia dengan harapan terbentuknya satu agama untuk seluruh umat; Apatisme (aphates dalam bahasa Yunani artinya tanpa perasaan. Ketiga hal ini lahir karena kemelut politik Belanda dan Imdonesia.

Jabat Ketua DPRD Provinsi Irian Jaya

1977-1982 dan 1982 – 1985

Kiprah Bapak Pdt W. Maloali didunia politik terbilang cukup matang. Hal ini sangat dimungkinkan oleh masa 20 tahun malang melintang didunia politik. Keadaan waktu itu yang menuntut dan mengharuskan untuk menyeberang ke panggung politik, akhirnya berbuah pahit. Suatu pengalaman traumatis yang tidak bakal pupus dari benaknya.

Saat menjadi Ketua DPRD Tingkat I Provinsi Irian Jaya Pdt Willem Maloali menjadi korban penculikan dan penyanderaan oleh faksi Organisasi Papua Merdeka pimpinan Marthen Tabu. Pdt W.Maloali bersama rohaniawan Katolik Kodam XVII/Cenderawasih asal Flores Pater Aloysius Ombos, Komandan Korem Letkol Ismael, Asisten Inteljin Kodam A.F Admiral, disandera di dekat Papua New Guinea.

Pada bulan Mei 1978, Pdt Willem Maloali diundang bersama para Muspida Provinsi Irian Jaya untuk menghadiri sebuah acara dalam kapasitas sebagai Kerua DPRD Tingkat I Irian Jaya. Dari pihak Kodam XVII Cenderawasih yang mewakili Panglima adalah Asisten Intel Kolonel A.F Admiral.

Pada kunjungan itu, mereka ditahan oleh sekelompok orang dan dibawa mengelili hutan Keerom selama empat bulan. Selama itu pula, Pdt W.Maloali bersama para tahanan lainnya dibawa dari satu tempat ke tempat lainnya. Yang sama.sekali tidak mereka kenal atau tahu tentang tempat itu. Dalam penyanderaan itu, kadang mereka disiksa, dipukul, dicaci maki, bahkan diberi makan tanah.

Meskipun menorehkan perih yang mendalam, perjalanan penyaderaan dihutan-hutan Keerom oleh anggota OPM itu banyak menyodorkan pengalaman berharga bagi Bapak Pdt W.Maloali. Mengapa Pdt Willem Maloali disandera? Para anggota Organisasi Papua Merdeka mempersoalkan alasan dirinya menjadi Ketua DPRD Tingkat I Irian Jaya yang menurut mereka, diluar urusan mewartakan sabda Tuhan.

Para anggota OPM itu mempersalahkan Pdt W.Maloali yang dianggap telah mengikuti jejak dua pendahulunya Pdt FJS Rumainum dan Pdt J. Mamoribo yang meninggalkan pekerjaan gerejani dan terjun ke dunia politik.

Apa jawaban Pdt W. Maloali? “Sangat sukar untuk diterangkan dengan ringkas. Sebagai pendeta saya harus memerangi lingkungan tempat saya bekerja. Setiap Minggu kedua hamba Tuhan ( Pdt Willem Maloali dan Pater Ombos) mendapat giliran berkhotbah.

Pada suatu Minggu, ketika jadwal berkgotbah jatuh pada Pdt W. Maloali, kedua kakinya goyah, hampir tidak mampu menopang tubuhnya. Sepasang kaki itu gemetar, mulut terkatup rapat untuk menyampaikan votum dan salam. Pikirannya kosong, hatinya demikian remuk. Ia, bangkit berdiri, namun membisu tanpa suara. Lidahnya seperti kaku.

Akhirnya, ia berseru dalam hati: Tuhan ampuni saya, saya sudah salah jalan, hingga akhirnya, ia diberi kekuatan baru dan hikmat untuk berbicara didepan para tawanan dan anggota OPM yang menculik mereka. Bulu yang terkulai, tak mungkin dipatahkan dan pelita yang tak bersumbu tak mungkin dipadamkannya, “begitu salah satu bagian dari pesan yang disampaikan Pdt W. Maloali dalam khotbahnya. Suatu pesan yang dikaitkan dengan kondisi para sandera dan anggota Organisasi Papua Merdeka.

Apa kesimpulan yang dipetik Ketua DPRD Tingkat I Irian Jaya ini dari peristiwa penyederaan Marthen Tabu? OPM sesungguhnya itu tidak ada, yang ada hanyalah emosi orang Papua. Dia cukup prihatin terhadap para penyandera, dari khotbah-khotbah yang disampaikan ketika menjadi tawanan OPM. Ada dua hal yang dia rasakan sebagai sumbangan pemikiran yang ia yakini sebagai suara Tuhan, yakni untuk mengingatkan suadara-saudaranya bahwa bentuk perjuangan yang tengah dijalankan barangkali harus diubah.

Salah satu dari khotbahnya adalah twntang permintaan Yesus kepada para muridnya untuk menebarkan jaring/jala diarah kanan perahu. Permintaan Yesus dilatari oleh alasan bajwa selama semalam menjaring ikan di danau, tidak ada hasil tangkapan yang diperoleh. Murid-murid itupun menurut, akibatnya mereka memperoleh tangkapan yang demikian banyak sampai tidak mampu mengangkatnya.

Dari pengalaman itu, Pdt W.Maloali berkesimpulan bahwa kalau perjuangan mereka benar, silahkan diteruskan, namun jika tidak, harus diubah. Apa yang harus diubah? Semuanya termasuk sikap mentalnya.

Mereka tidak hanya disiksa para penyandera, Maloali dan sejumlah rejan tawanan nyaris dibunuh. Mereka sudah dikubur setengah badan, menanti sang algojo mengayungkan parangnya.

Tapi tangan Tuhan tidak kurang panjanh untuk menolong dan telinga-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Tidak disangka, melalui sejaumlah orang ia berhasil lolos daro jeratan maut. Maloali tidak melupakan detik-detik yang paling menentukan hidupnya, yakni ketika ia diloloakan dua pemuda asal Biak, yaitu Rimbewas dan Sawor. Kedua orang ini sangat berjasa melepaskannya dari ancaman maut.

Keselamatannya juga ikut diupayakan oleh seorang pemuda bernama Robby. Dulu Robby adalah anak angkat dari seorang perempuan yang betnama Adolfina Suebu (kini isteri dari Bapak L.Rumakewi tinggal di kompleks Khutanan Kemiri Sentani). Juga seorang laki-laki bermarga Buney. Isteri Buney verasal dari Sentani fan ia adalah bekas murid katekisasi dari Pdt W. Maloali. Atas desakan sang istri Buney akhirnya mencari dan mengupayakan pembebasan Pdt W. Maloali pada malam hari.

Itulah cara Tuhan menyelamatkan manusia. Pdt Maloali sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya bahwa akan datang penolong disekitar kita dengan dituntun oleh si Empunya Kuasa sendiri. Murid-murid binaan Maloali selama ia aktif menekuni karirnya, ada yang telah berhasil dalam bidang pekerjaan dan hidupnya, dari pemimpin perguruan tinggi hingga pemimpin gereja.

Ia juga banyak melakukan kunjungan-kunjungan, baik ke Klasis-Klaiss maupun ke Jemaat-jemaat. Pdt Willem Maloali menghadiri konferensi Dewan Gereja Dunia di Nairobi dan mengantarkan proposal pembangunan Puapenka di Jerman.

Dari kunjungannya ke Klasis dan jemaat-jemaat, ia menemukan bahwa jemaat-jemaat sangat membutuhkan kehadiran para pemimpin yang ada di tingkat Klasis maupun sinode. Oleh sebab itu, pemimpin sinode dan klasis harus banyak meluangkan waktu untuk mengunjungi jemaat-jemaat sebagai wujud perhatian dan sentuhan kasih terhadap mereka.

Dalam jumpa kita bersama Pdt Willem Maloali pada bulan Februari 2021, tidak dibatasi oleh usia yang senja 87 tahun tidak merubah daya ingat dan sikap kritisnya yang masih stabil dan prima. Ia juga berikan beberapa saran, masukan dan kritik bagi pengembangan organisasi sinode dimasa yang akan datang dan juga anak-anak Tuhan yang dipercayakan dapat bekerja dengan rendah hati dalam melayani umatnya sebagai domba-domba pilihan Allah..

Pdt W.Maloali menyarankan agar ada perampingan dalam struktur Sinode  GKI do Tanah Papua, karena akan menguras pembiayaan gereja. Dana gereja terserap lebih besar untuk administrasi ketimbang jemaat mengelolah pengembang umat. Karena, sesungguhnya urusan teologi harus difokuskan pada jemaat-jemaat dengan ujung tombak para majelis jemaat atau jemaat-jemaat misioner. Sebab misioligis-teologis telah dilaksanakan ditengah-tengah jemaat, jadi diakonia mesti ditingkatkan sehingga sinode hanya menjalankan fungsi koordinatif bukan eksekutif.

Karena itu, tantangan terberat GKI di Tanah Papua saat ini, bukan lagi melakukan pekabaran injil keluar, tapi ke dalam (gereja). Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat iman, dan ketaatan dalam menghadapi tantangan global.

Dalam berbagai gejolak dan peristiwa pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang serta isu-isu kekinian atau aktual yang menyelimuti Tanah Papua memang membutuhkan keterlibatan penanganan GKI.

 Dengan demikian jelaslah visi misi GKI dalam sejarah kelahirannya tidak saja apatis terjadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakatnya tetapi gereja telah ikut aktif dalam penanggulangannya.

Dari sana kita dapat lihat bahwa Gereja Kristen Injili di Tanah Papua berada dalam momentun apapun selaku sebuah gereja TUHAN di Tanah Papua.

Kami anak-anakmu yang selalu datang menyita waktu Bapak dihari tua untuk mendapatkan nasehat dan berbagai informasi tentang manusia Papua, alam Papua dan gereja Tuhan, kiranya dapat kita bagikan kepada sesama kita dimana saja kita berada.

Selamat jalan Pdt Willem Maloali, salam-salam dijalanmu.

Sumber : Buku Yubelium fan Pembebasan Menuju Papua Baru_2006@Buku Ketika Tanah Papua Terbuka Bagi Firman_2007@catatan pribadi.

Tulisan ini disarikan oleh

Hanggua Rudi Mebri.

Previous Post

Ratusan Warga Distrik Sentani Antusias Lakukan Vaksinasi Massal

Next Post

Jelang HUT Partai Demokrat, RHP Bagi-bagi Berkat

Next Post
Jelang HUT Partai Demokrat, RHP  Bagi-bagi  Berkat

Jelang HUT Partai Demokrat, RHP Bagi-bagi Berkat

Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dorong Kemandirian Pangan, PLN UIP MPA Berdayakan Petani Papua Lewat Program Electrifying Agriculture

Dorong Kemandirian Pangan, PLN UIP MPA Berdayakan Petani Papua Lewat Program Electrifying Agriculture

17 April 2026
Dukung Kebijakan WFH, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50%

Dukung Kebijakan WFH, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50%

17 April 2026
Sinergi PLN UIP MPA dan DPD RI Dukung Pengembangan Energi Berkelanjutan di Wilayah Kepulauan

Sinergi PLN UIP MPA dan DPD RI Dukung Pengembangan Energi Berkelanjutan di Wilayah Kepulauan

17 April 2026
DPD RI Tinjau GI Manokwari 60 MVA, Perkuat Sinergi Pengembangan Infrastruktur Kelistrikan Papua Barat

DPD RI Tinjau GI Manokwari 60 MVA, Perkuat Sinergi Pengembangan Infrastruktur Kelistrikan Papua Barat

17 April 2026

Recent News

Dorong Kemandirian Pangan, PLN UIP MPA Berdayakan Petani Papua Lewat Program Electrifying Agriculture

Dorong Kemandirian Pangan, PLN UIP MPA Berdayakan Petani Papua Lewat Program Electrifying Agriculture

17 April 2026
Dukung Kebijakan WFH, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50%

Dukung Kebijakan WFH, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50%

17 April 2026
Sinergi PLN UIP MPA dan DPD RI Dukung Pengembangan Energi Berkelanjutan di Wilayah Kepulauan

Sinergi PLN UIP MPA dan DPD RI Dukung Pengembangan Energi Berkelanjutan di Wilayah Kepulauan

17 April 2026
DPD RI Tinjau GI Manokwari 60 MVA, Perkuat Sinergi Pengembangan Infrastruktur Kelistrikan Papua Barat

DPD RI Tinjau GI Manokwari 60 MVA, Perkuat Sinergi Pengembangan Infrastruktur Kelistrikan Papua Barat

17 April 2026
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • SUSUNAN REDAKSI
tabloidpapuabaru.com

© TABLOID PAPUA BARU | 2020

No Result
View All Result
  • Home
  • PAPUA
  • JAYAPURA
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • EKONOMI

© TABLOID PAPUA BARU | 2020

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In