JAYAPURA-TABLOID PAPUA BARU.COM,- Kebakaran menghanguskan 39 rumah warga di Kampung Kirimu, Distrik Okbab, dan Kampung Kolgir, Distrik Borme, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, pada Sabtu (5/9/2026). Kebakaran terjadi ketika sebagian besar warga sedang berada di kebun.
Kepala Distrik Okbab, Rossa R. Mallo, S.Kep., M.K.M., mengatakan kebakaran terjadi sekitar pukul 10.00 hingga 13.30 WIT. Api diduga berasal dari dapur salah satu rumah warga dan kemudian merambat ke rumah-rumah lain yang dibangun berdekatan.

“Di saat warga atau masyarakat sedang pergi berkebun dan melakukan aktivitas mereka, api meluap dari salah satu rumah warga di sekitar, lalu menyebar ke semua rumah di situ dan terbakar,” kata Mallo saat memberikan keterangan di Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Mallo, ketika kebakaran terjadi, sebagian besar warga sedang berada di kebun atau tempat kerja masing-masing. Setelah mengetahui kampung mereka terbakar, warga kembali untuk menyelamatkan barang-barang yang masih dapat diselamatkan.
Namun, sebagian besar harta benda warga tidak berhasil diselamatkan. Peralatan memasak, perlengkapan tidur, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga lainnya ikut terbakar.

“Memang untuk korban jiwa tidak ada. Material yang banyak sekali kerugian dari masyarakat,” ujarnya.
Mallo mengatakan kebakaran juga menghanguskan sejumlah perlengkapan pendidikan. Lebih dari 200 anak terdampak karena seragam sekolah, alat tulis, serta perlengkapan pendidikan mereka ikut terbakar.
*Informasi kebakaran terlambat diterima*
Mallo mengatakan Pemerintah Distrik Okbab tidak langsung menerima informasi mengenai kebakaran tersebut karena kampung yang terdampak tidak memiliki jaringan komunikasi.
Informasi baru diterima pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 18.00–19.00 WIT dari seorang guru bernama Bertus Mul yang berada di Borme. Setelah menerima informasi tersebut, pihak distrik melakukan konfirmasi dan memperoleh laporan bahwa 39 rumah terbakar.

“Setelah itu dikonfirmasi bahwa ada 39 buah rumah yang terbakar,” katanya.
Mallo kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, termasuk bupati, wakil bupati, sekretaris daerah, dan para asisten.
Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang merespons laporan tersebut. Pada Senin (7/9/2026), Mallo dipanggil untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi di lokasi kejadian.
Setelah itu, Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyiapkan penerbangan dan bantuan logistik bagi warga terdampak.

Mallo kemudian berangkat dari Oksibil menuju lokasi pada Selasa (8/9/2026) bersama bantuan yang disiapkan pemerintah.
*Lima tenda didirikan*
Setibanya di lokasi, Mallo bersama tim menyalurkan bantuan berupa terpal, pakaian, bahan makanan, dan kebutuhan lainnya kepada warga terdampak.
Pemerintah Distrik Okbab juga membentuk posko di Kampung Kirimu. Posko tersebut menjadi tempat pengumpulan bantuan sekaligus pusat pelaporan kondisi warga kepada pemerintah distrik dan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang.
“Kami sudah buat posko. Posko juga kami sudah dirikan di sana agar supaya bantuan yang datang dari mana-mana kita bisa tampung di situ,” katanya.
Selain posko bantuan, pemerintah membentuk Tim Posko yang bertugas menangani secara langsung kebutuhan dan kondisi warga terdampak di lapangan. Tim tersebut melakukan penanganan langsung terhadap warga serta mendata kebutuhan dan perkembangan situasi untuk selanjutnya dilaporkan kepada Pemerintah Distrik Okbab dan Pemerintah Distrik Borme.
Tim kemudian turun langsung ke lokasi kebakaran dan mendirikan tempat tinggal sementara bagi warga yang kehilangan rumah.
Menurut Mallo, sebelum bantuan tiba, warga bertahan di tempat-tempat darurat dengan menggunakan seng bekas sebagai tempat berlindung. Setelah tim tiba membawa peralatan, lima tempat tinggal sementara menggunakan tenda berhasil didirikan.
“Saat ini masyarakat yang terdampak dari dua kampung ini, mereka menggunakan rumah sementara di rumah terpal itu atau di bawah tenda,” ujarnya.
*Siswa Borme ikut membantu pembangunan rumah darurat*
Pemerintah Distrik Borme juga mengerahkan dukungan untuk membantu warga terdampak kebakaran. Sekitar 100 siswa SMP dan SMA Negeri Borme didatangkan untuk membantu proses pembuatan rumah-rumah darurat bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Keterlibatan para siswa tersebut merupakan bagian dari upaya bersama membantu masyarakat terdampak, terutama dalam mempercepat pembangunan tempat tinggal sementara agar warga dapat kembali memiliki tempat berlindung yang lebih layak setelah rumah mereka terbakar.
*Api diduga berasal dari dapur*
Mallo mengatakan hasil pengecekan dan wawancara dengan masyarakat di lapangan menunjukkan kebakaran bermula dari api yang masih menyala setelah warga meninggalkan rumah untuk pergi ke kebun.
Menurutnya, angin yang cukup kencang membuat api membesar dan merambat ke rumah-rumah di sekitarnya.
“Itu setelah saya turun dan saya menanyakan langsung ke lapangan. Itu adalah insiden kebakaran yang terjadi bukan karena sebab lain. Tapi kebakaran murni sendiri,” kata Mallo.
Ia menjelaskan api diduga bermula dari dapur salah satu rumah. Setelah rumah tersebut terbakar, api kemudian menjalar ke rumah lainnya.
“Ketika masyarakat setelah apinya sudah pasang api, kasih tinggal di dapur atau di rumah itu. Setelah itu mereka keluar ke kebun. Jadi apinya masih menyala dan angin itu saat itu kencang. Sehingga apinya itu meluap dan rumahnya itu terbakar,” ujarnya.
Kondisi rumah warga yang dibangun sangat berdekatan turut mempercepat penyebaran api.
“Bangunan rumah itu berdekatan sekali, sangat dekat. Karena di sana itu daerah dingin, sehingga biasa kebiasaan masyarakat mendirikan rumah itu sangat tempet sekali. Akhirnya kebakaran itu terjadi sampai dengan 39 rumah,” katanya.
Mallo memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
“Setelah kami turun, kami wawancara dan kami lihat langsung di lapangan. Memang untuk korban jiwa tidak ada,” ujarnya.
Ia mengatakan kerugian material juga mencakup uang tunai milik sejumlah warga. Berdasarkan laporan yang diterimanya, sekitar lima orang warga kehilangan uang tunai dengan total sekitar Rp12 juta hingga Rp15 juta.
Warga membutuhkan perlengkapan rumah dan sekolah
Mallo mengatakan kebutuhan warga terdampak masih cukup besar. Pemerintah distrik membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Kebutuhan tersebut antara lain peralatan dapur, perlengkapan tidur seperti selimut, pakaian anak-anak dan orang dewasa, seragam sekolah, alat tulis, tenda, serta obat-obatan.
“Yang kedua, membutuhkan bantuan peralatan dapur, karena peralatan dapur mereka semua pada hangus semua. Tidak ada sama sekali,” katanya.
Ia juga meminta bantuan seragam sekolah dan perlengkapan belajar karena barang-barang tersebut ikut terbakar.
“Sekitar 200 lebih anak, seragam sekolahnya itu terbakar hangus semua. Alat tulis, bolpen, pensil, penghapus dan lain sebagainya semuanya terhangus dari insiden itu,” ujarnya.
Selain kebutuhan dasar, warga membutuhkan peralatan kerja seperti sekop dan linggis serta bahan bangunan berupa seng, paku, dan martil untuk membangun tempat tinggal sementara.
“Yang paling penting di sini adalah kami membutuhkan seng, paku, martelu dan lain-lain untuk bisa mendirikan rumah sementara. Agar supaya masyarakat bisa tinggal dulu sambil kita menunggu bantuan rumah layak huni dari pemerintah,” kata Mallo.
Obat-obatan juga diperlukan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan selama warga tinggal di tempat pengungsian sementara.
**Bantuan bahan makanan terus diupayakan*
Mallo mengatakan Pemerintah Distrik Okbab dan Pemerintah Distrik Borme juga berupaya menyalurkan bantuan bahan makanan kepada warga terdampak.
Total sekitar tiga ton bahan makanan direncanakan dikirim ke lokasi. Dari jumlah tersebut, sekitar satu ton telah diturunkan, sementara dua ton lainnya masih menunggu penerbangan untuk dikirim dalam waktu dekat.
Kondisi lokasi yang berada di wilayah terpencil dan tidak memiliki jaringan komunikasi menjadi salah satu tantangan dalam proses penyaluran bantuan.
Mallo berharap dukungan dari pemerintah, organisasi kemahasiswaan, organisasi masyarakat, dan seluruh pihak di Tanah Papua terus mengalir untuk membantu warga memulihkan kehidupan mereka.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai organisasi mahasiswa yang telah menunjukkan kepedulian kepada warga korban kebakaran.
“Terima kasih kepada semua pihak dari organisasi mahasiswa dan organisasi-organisasi lain yang ada di Tanah Papua yang sudah bergerak. Mahasiswa Impettang, mahasiswa Uncen dan semua mahasiswa di kabupaten yang ada di seluruh Tanah Papua yang turut perhatian atas kejadian atau insiden kebakaran rumah ini,” katanya.
Mallo berharap bantuan tersebut dapat membantu warga memenuhi kebutuhan mendesak sekaligus memulihkan kondisi psikologis mereka setelah kehilangan rumah dan harta benda.
“Kami membutuhkan yang pertama itu doa dari semua. Doa agar supaya pemulihan kepada masyarakat yang terdampak, agar supaya psikis mereka itu harus terjaga,” ujarnya. (*)






