SENTANI-TABLOID PAPUA BARU.COM,- Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura mendorong masyarakat mengurangi sampah makanan sejak dari sumbernya. Langkah itu dinilai penting karena makanan yang terbuang tidak hanya menjadi persoalan persampahan, tetapi juga berkaitan dengan pemborosan air, energi, lahan, dan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan pangan.
Dorongan tersebut disampaikan dalam Talkshow Susut dan Sisa Pangan yang digelar DLH Kabupaten Jayapura bersama WWF-Indonesia dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Susut dan Sisa Pangan6 Internasional 2026.
Talkshow bertema “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi” itu berlangsung di Hotel Suni Sentani, Kabupaten Jayapura, pada 29 September 2026. Kegiatan tersebut melibatkan Sekolah Adiwiyata, komunitas, serta perwakilan instansi pemerintah.
Kepala DLH Kabupaten6 Jayapura, Salmon Telenggen, mengatakan pengurangan sampah makanan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dan fasilitas pemerintah. Perubahan kebiasaan masyarakat diperlukan agar pengelolaan sampah dapat dilakukan sejak dari rumah tangga.
“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dan fasilitas yang disediakan pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan mulai bijak mengelola sampah dari diri sendiri, seperti mengurangi makanan yang terbuang, memilah sampah dari sumber, dan memastikan sampah yang dihasilkan dikelola dengan benar,” kata Salmon.
Menurut Salmon, kebijakan pemerintah akan lebih efektif apabila berjalan bersamaan dengan perubahan perilaku masyarakat.
Sampah makanan menjadi persoalan lingkungan karena makanan yang terbuang dan kemudian terurai tanpa pengelolaan yang baik dapat menghasilkan gas metana. Dalam materi kegiatan disebutkan gas metana memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
Karena itu, persoalan susut dan sisa pangan tidak hanya berkaitan dengan apa yang terjadi setelah makanan dibuang. Pengurangan sampah makanan perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari memilih, mengambil, menyimpan, mengonsumsi hingga mengelola makanan yang tersisa.
*Sekolah menjadi basis pembentukan kebiasaan*
Peran sekolah menjadi salah satu perhatian dalam talkshow tersebut. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayapura mendorong isu susut dan sisa pangan diintegrasikan dalam pembelajaran dan edukasi lingkungan melalui program Sekolah Adiwiyata.
Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Slamet Riyadi, mengatakan sekolah memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan peduli lingkungan sejak dini.
Menurut Slamet, seluruh satuan pendidikan menghasilkan sampah sehingga perlu memiliki pola pengelolaan yang jelas. Di Kabupaten Jayapura terdapat sekitar 454 satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA hingga SMK.
“Kalau sekolah tidak bersih dan sampah dibuang sembarangan, otomatis belajar juga tidak akan nyaman,” kata Slamet.
Ia mengatakan pendidikan lingkungan tidak cukup hanya disampaikan sebagai pengetahuan. Kebiasaan perlu dibangun melalui kegiatan nyata yang dilakukan secara rutin oleh seluruh warga sekolah.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan ialah program Adiwiyata. Program tersebut mendorong sekolah membangun budaya peduli lingkungan melalui kebijakan sekolah, pembelajaran, kegiatan bersama, serta penyediaan sarana pendukung.
Menurut Slamet, sekolah dapat membiasakan siswa dan guru mengamati sisa pangan serta mendorong pengelola kantin memperbaiki perencanaan porsi makanan. Siswa juga dapat dibiasakan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan makanan yang telah diambil.
Sisa makanan yang dihasilkan kemudian dapat dipilah agar tidak bercampur dengan jenis sampah lainnya.
“Sekolah tidak cukup hanya memberikan sosialisasi tentang kebersihan, tetapi harus memiliki sarana yang mendukung pengelolaan sampah,” katanya.
Sarana tempat sampah, kata Slamet, perlu disediakan berdasarkan jenis sampah sehingga sisa makanan, botol plastik, kertas, dan material lainnya tidak bercampur sejak awal.
Ia mengatakan sekolah yang mengikuti program Adiwiyata terlebih dahulu melalui proses seleksi dan penilaian. Sekolah yang memenuhi ketentuan dapat mewakili daerah mengikuti tahapan berikutnya hingga tingkat provinsi dan nasional.
Karena itu, menurut Slamet, pelaksanaan Adiwiyata tidak cukup dilakukan hanya menjelang penilaian. Program tersebut harus dijalankan secara konsisten sepanjang tahun agar budaya peduli lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sekolah.
Slamet juga mengatakan kawasan perkotaan menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah. Karena itu, diperlukan pola pengelolaan yang dapat mengakomodasi sampah dari satuan pendidikan dan terhubung dengan pihak yang menangani persampahan.
Untuk sekolah yang berada dalam satu yayasan dan memiliki beberapa jenjang pendidikan, pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui tempat penampungan bersama. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dikoordinasikan dengan DLH untuk proses pengangkutan.
Sementara bagi satuan pendidikan yang berdiri sendiri, kepala sekolah dapat menunjuk pihak yang bertanggung jawab mengoordinasikan pengelolaan sampah.
*Keluarga dan komunitas*
Selain sekolah, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam mengurangi makanan yang terbuang. Ketua TP-PKK Kabupaten Jayapura, Dewi Sartika Wonda, menyampaikan pentingnya peran keluarga dalam mencegah makanan terbuang sekaligus membangun kebiasaan pengelolaan makanan dan sampah yang lebih bijak.
Keluarga menjadi lingkungan terdekat dalam membentuk kebiasaan mengelola dan memanfaatkan makanan, termasuk mencegah makanan yang masih dapat dikonsumsi menjadi sampah.
Dalam talkshow tersebut, pengalaman sekolah dalam menerapkan kebiasaan bijak pangan juga didorong untuk didokumentasikan dan dibagikan kepada sekolah lain di Kabupaten Jayapura maupun wilayah Papua lainnya.
Sekolah Adiwiyata diharapkan menjadi kekuatan untuk memobilisasi aksi dan edukasi lingkungan secara terintegrasi. Kebiasaan yang dibangun di sekolah kemudian diharapkan diterapkan siswa dan keluarga di lingkungan rumah.
*WWF dorong perubahan perilaku*
Sementara itu, WWF-Indonesia memaparkan hasil kajian mengenai timbulan sampah makanan di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke. Kajian tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi dan praktik pengelolaan sampah makanan di tingkat lokal serta berbagai upaya yang dilakukan melalui edukasi dan perubahan perilaku.
Staf Waste Management Specialist WWF-Indonesia Program Papua, Dony Kristiawan, mengatakan isu susut dan sisa pangan perlu menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan di daerah.
“Melalui Joint Workplan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, WWF-Indonesia mendorong agar isu ini dapat diintegrasikan ke dalam upaya pengelolaan sampah dari sumber, sekaligus diperkuat melalui edukasi di masyarakat, salah satunya juga Sekolah Adiwiyata,” kata Dony.
Manager Program Sarmi-Jayapura WWF-Indonesia, Bernadus Ronald Tethool, mengatakan perubahan perilaku masyarakat membutuhkan proses panjang dan tidak dapat dicapai hanya melalui satu atau dua kegiatan.
“Perubahan tidak bisa terjadi dalam satu atau dua kegiatan. Kita perlu terus mengedukasi, mengajak masyarakat mencoba, dan melihat apa yang bisa diperbaiki dari waktu ke waktu,” kata Bernadus.
Menurut Bernadus, pengurangan susut dan sisa pangan perlu dipandang sebagai proses jangka panjang. Karena itu, edukasi dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, sekolah, komunitas, dan WWF-Indonesia perlu terus dilanjutkan.
Upaya tersebut dapat dimulai melalui praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat didorong mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan yang telah diambil, serta mengelola sisa pangan secara bijak.
Dengan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, jumlah makanan yang terbuang dapat ditekan sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik dari sumbernya.(*)






