JAYAPURA-TABLOID PAPUA BARU.COM,- Mantan Ketua Sinode GKI Di Tanah Papua ke-10, Pdt. Yemima M, Krey,S.Th, mengatakan Persatuan masyarakat Biak dinilai tidak cukup hanya dibangun melalui ikatan adat dan identitas kesukuan, tetapi perlu diperkuat dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM), kajian-kajian kritis, serta landasan nilai-nilai spiritual.
Gagasan tersebut menempatkan transformasi komunitas Biak pada tiga pilar utama, yakni sinergi sumber daya manusia, kajian kritis, dan buah rohani yang diwujudkan melalui kerja nyata serta pelayanan kepada sesama.
Sinergi SDM menjadi fondasi penting untuk menghimpun berbagai potensi yang dimiliki masyarakat Biak. Setiap individu maupun kelompok diharapkan dapat memberikan kontribusi sesuai kemampuan masing-masing untuk membangun kekuatan bersama.
Sementara itu, kajian kritis diperlukan agar berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya dibicarakan, tetapi dikaji secara serius untuk menghasilkan pemikiran dan solusi yang dapat memberikan manfaat nyata.
Lalu buah rohani menjadi landasan moral agar seluruh proses pembangunan komunitas tidak kehilangan arah. Semangat persatuan diharapkan melahirkan tindakan yang menjadi berkat dan memberikan kelegaan bagi sesama.
“sebab Tuhan tidak memanggil kita untuk kesombongan, tetapi untuk menjadi satu komunitas yang benar-benar dipakai-Nya.” Demikian dikatakan Pdt. Yemima Krey saat diwawancarai media ini usai mengikuti Ibadah Kontekstual Suku Biak Kainkain Karkara Byak Sup Tabi di Gedung gereja Jemaat IS Kjne Abepura, Minggu (27/9/2026).
Perkuat SDM dan Hindari Eksklusivitas
Persatuan masyarakat Biak membutuhkan kerja keras, keterbukaan, serta kontribusi dari seluruh elemen masyarakat. Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak terjebak dalam perpecahan, sikap eksklusif maupun kebanggaan pribadi yang dapat menghambat tujuan bersama.
Pertemuan dan kebersamaan masyarakat Biak juga diharapkan tidak berhenti pada urusan adat maupun penyelesaian persoalan tradisional. Lebih dari itu, kebersamaan harus diarahkan untuk membangun komunitas yang mampu menghadirkan kebaikan, memberikan solusi dan menjadi kekuatan positif bagi masyarakat luas.
Setiap elemen masyarakat Biak diharapkan memberikan dukungan terhadap visi tersebut dengan mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Mubes Momentum Meneguhkan Jati Diri
Saat disinggung dukungannya dalam rangka pelaksanaan Musyawarah Besar Masyarakat Adat Biak di Tanah Tabi, Pdt.Yemima Krey menegaskan bahwa dalam konteks Musyawarah Besar (Mubes), momentum pertemuan masyarakat Biak diharapkan menjadi ruang untuk meneguhkan kembali jati diri, integritas dan tanggung jawab bersama.
Masyarakat Biak diingatkan agar setiap langkah yang diambil tidak berjalan di luar kehendak Tuhan. Sikap arogan dan keinginan untuk mencari pengakuan pribadi perlu ditinggalkan.
Istilah-istilah yang menggambarkan sikap kesombongan seperti ikada, ayakada, maupun skokada tidak seharusnya menjadi karakter dalam membangun kebersamaan.
Sebaliknya, Mubes diharapkan menjadi momentum untuk merendahkan hati, membuka ruang dialog dan bekerja dengan ketulusan sebagai bentuk ketaatan serta tanggung jawab kepada Tuhan.
Dengan demikian, Mubes bukan sekadar forum untuk menghasilkan keputusan organisasi atau menyelesaikan persoalan adat, tetapi dapat menjadi ruang untuk merumuskan langkah strategis bagi masa depan komunitas Biak.
Satukan Potensi, Rumuskan Solusi
Langkah selanjutnya adalah menghimpun seluruh potensi sumber daya manusia masyarakat Biak untuk bersama-sama berpikir serius mengenai masa depan komunitas.
Kajian-kajian kritis perlu dilakukan secara nyata dan berkelanjutan, terutama terhadap berbagai persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan kehidupan masyarakat. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menghasilkan gagasan dan solusi yang benar-benar memberi manfaat bagi sesama.
Seluruh komunitas orang Biak juga diharapkan mendukung visi persatuan yang berorientasi pada pelayanan, dengan tetap menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai landasan dalam setiap langkah.
Peserta Mubes secara khusus diharapkan mampu menanggalkan kepentingan dan kesombongan pribadi. Kerja bersama perlu dilakukan dengan rendah hati, bukan untuk mengejar popularitas atau pengakuan, melainkan sebagai wujud tanggung jawab kepada Tuhan dan masyarakat.
Persatuan untuk Masa Depan Biak
Persatuan masyarakat Biak merupakan kekuatan yang berakar pada sejarah, identitas, budaya dan nilai-nilai spiritual. Namun, kekuatan tersebut akan semakin berarti apabila diikuti dengan peningkatan kualitas SDM, pemikiran kritis dan kerja nyata.
Dengan menghimpun seluruh potensi, membuka ruang kajian yang konstruktif, menghindari ego dan eksklusivitas, serta menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai landasan, komunitas Biak diharapkan mampu bertransformasi menjadi kekuatan yang membawa berkat dan perubahan positif bagi masyarakat dan negeri.
Persatuan bukan sekadar berkumpul, tetapi menyatukan potensi, menyatukan pemikiran dan menyatukan langkah untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik. (Laporan Mozes Baab/Humas Adat)






