JAYAPURA, TABLOID PAPUA BARU.COM — Ikatan Keluarga Besar Biak di Jemaat GKI Petrus Waena menggelar ibadah bersama dengan mengangkat tema “Orang Biak Bahagia karena Takut Akan Tuhan.”
Ibadah tersebut berlangsung di kediaman keluarga Ely Worabay Rumbekwan, Kompleks Jalan Masuk Utama Kampung Yoka, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Tanah Tabi, Sabtu (26/9/2026).
Ibadah dipimpin Pdt. Nabot Manufandu, S.Th., dengan bahan renungan dari Mazmur 112:1–3, khususnya ayat yang berbunyi:
“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.”
Dalam penyampaian khotbahnya, Pdt. Nabot menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, jabatan, pekerjaan maupun keberhasilan material. Menurutnya, dasar kebahagiaan adalah kehidupan yang menempatkan Tuhan sebagai pusat.

Mengawali khotbah dengan ungkapan “Syom Sandik be Manseren. Jou Suba Syowi,” ia mengajak keluarga besar Biak untuk melihat kembali nilai-nilai kehidupan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan orang Biak, seperti keluarga, kekerabatan, kampung, tanah, laut, adat, persaudaraan, serta penghormatan kepada orang tua dan para pemimpin adat.

Namun, seluruh nilai tersebut, katanya, perlu ditempatkan dalam dasar iman kepada Tuhan.
Tuhan Harus Menjadi Pusat Kehidupan
Pdt. Nabot menjelaskan bahwa takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan menunjukkan sikap hormat, kasih, ketaatan dan kesediaan menjadikan firman Tuhan sebagai dasar kehidupan.
Menurutnya, masyarakat Biak memiliki nilai penghormatan yang kuat terhadap orang tua, Mananwir, keluarga dan orang-orang yang dituakan. Nilai tersebut perlu terus dipelihara, tetapi penghormatan kepada Tuhan harus menjadi dasar utama.
“Kalau Tuhan menjadi pusat kehidupan kita, maka penghormatan kepada manusia juga akan menjadi benar,” demikian pesan yang disampaikan dalam khotbah tersebut.
Ia menegaskan, orang yang takut akan Tuhan tidak cukup hanya berbicara tentang iman, tetapi harus menunjukkan imannya melalui perilaku sehari-hari.
Iman Harus Terlihat dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengacu pada Mazmur 112:1, Pdt. Nabot mengingatkan bahwa kecintaan terhadap firman Tuhan harus diwujudkan bukan hanya ketika berada di gereja, tetapi juga dalam keluarga, pekerjaan, kehidupan sosial, organisasi, pemerintahan maupun kehidupan adat.
Menurutnya, identitas sebagai orang Biak sekaligus orang Kristen harus tercermin melalui kasih, kejujuran, penghormatan dan kepedulian terhadap sesama.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai adat, persaudaraan dan kehidupan iman.
Kepemimpinan, lanjutnya, tidak semestinya hanya dipahami sebagai kedudukan, tetapi sebagai panggilan untuk melayani. Karena itu, kepemimpinan yang baik harus dibangun dari hati yang takut akan Tuhan.
Berkat Tuhan Dimulai dari Keluarga
Mengutip Mazmur 112:2, “Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati,” Pdt. Nabot menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam membangun masa depan generasi Biak.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan seseorang tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sikap dan keputusan orang tua hari ini akan memberikan pengaruh terhadap anak-anak dan cucu-cucu mereka.
Karena itu, warisan yang diberikan kepada generasi berikutnya tidak boleh hanya berupa harta benda.
“Jangan hanya meninggalkan harta kepada anak-anak. Tinggalkan juga iman, doa, kasih, kejujuran, kerja keras, persaudaraan dan takut akan Tuhan,” menjadi pesan penting dalam khotbah tersebut.
Menurutnya, harta dapat habis, jabatan dapat berakhir dan rumah dapat rusak. Namun, nilai iman yang diwariskan kepada anak cucu dapat menjadi kekuatan bagi generasi berikutnya.
Menjadi Berkat bagi Sesama
Lebih lanjut, Pdt. Nabot menjelaskan bahwa berkat Tuhan tidak diberikan agar seseorang menjadi sombong, melainkan agar kehidupan orang tersebut dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Jika seseorang memperoleh rezeki, maka rezeki tersebut dapat digunakan untuk membantu sesama. Jika diberikan jabatan, jabatan tersebut harus dijalankan dengan benar. Jika memperoleh pendidikan, ilmu yang dimiliki dapat digunakan untuk membangun masyarakat.
Demikian pula ketika seseorang memperoleh kesempatan menjadi pemimpin, kesempatan tersebut harus dijalankan dengan adil dan penuh tanggung jawab.
“Bukan hanya berkata, ‘Saya diberkati’, tetapi orang lain juga dapat berkata, ‘Saya merasakan berkat Tuhan melalui kehidupanmu’,” demikian inti pesan yang disampaikan.
Persaudaraan Biak Harus Dijaga
Dalam konteks kehidupan sosial, Pdt. Nabot juga mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah berbagai perbedaan.
Perbedaan keluarga, kampung, pendapat, organisasi maupun kepentingan, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk memutuskan hubungan persaudaraan.
Ia mengajak keluarga besar Biak untuk menjadikan persaudaraan sebagai kekuatan nyata, bukan sekadar slogan.
Ketika ada anggota keluarga yang mengalami kesulitan, harus ada kepedulian. Ketika ada yang berduka, harus ada penghiburan. Ketika terjadi konflik, perlu dicari jalan perdamaian. Sementara ketika terdapat perbedaan, setiap pihak harus belajar saling menghormati.
Orang yang takut akan Tuhan, katanya, dipanggil untuk menjadi pembawa damai dan membangun kehidupan bersama.
Membangun Warisan bagi Anak Cucu
Pesan lain yang ditekankan dalam khotbah tersebut adalah pentingnya memikirkan warisan kehidupan bagi generasi mendatang.
Mazmur 112 berbicara tentang keturunan, sehingga iman dan karakter orang tua hari ini dinilai memiliki kaitan penting dengan masa depan anak cucu.
Karena itu, setiap keluarga diajak untuk bertanya: nilai apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?
Apakah anak cucu hanya akan mengingat orang tua mereka sebagai orang yang mengejar harta dan kepentingan pribadi, atau sebagai generasi yang mengajarkan iman, persaudaraan, perdamaian dan kasih?
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi keluarga besar Biak dalam membangun kehidupan bersama.
Kebahagiaan yang Berakar pada Tuhan
Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Nabot menegaskan kembali pesan utama Mazmur 112:1–3 bahwa kebahagiaan sejati berawal dari kehidupan yang takut akan Tuhan.
Takut akan Tuhan, menurutnya, bukan berarti seseorang tidak pernah menghadapi masalah, menangis atau mengalami kesulitan. Namun, dalam setiap keadaan, Tuhan menjadi tempat perlindungan, penghiburan dan pedoman hidup.
Karena itu, keluarga besar Biak diajak membangun kehidupan yang berakar pada Tuhan, baik dalam keluarga, persaudaraan, pekerjaan, pelayanan maupun kehidupan adat.
“Orang Biak yang takut akan Tuhan adalah orang Biak yang bahagia,” menjadi pesan utama yang mengikat keseluruhan khotbah tersebut.
Ibadah kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar Tuhan memberkati keluarga-keluarga Biak, anak-anak dan cucu-cucu, menjaga persaudaraan, serta memberkati tanah dan negeri tempat masyarakat hidup dan berkarya.
Pesan akhirnya adalah agar orang Biak terus dikenal sebagai umat yang takut akan Tuhan, hidup dalam kasih, menjaga persaudaraan dan menjadi berkat bagi sesama.( mozes baab- Humas Kainkain Karkara Byak Sup Tabi) ***






