WAMENA-TABLOID PAPUA BARU.COM – Anggota Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Bidang Papua Produktif Provinsi Papua Pegunungan, Yoyo Iwik Sriyoto, S.Sos., M.Si., menyatakan dukungan penuh terhadap kehadiran Himpunan Pengusaha Muda Anak Asli Papua (HIPMAS) di Provinsi Papua Pegunungan.
Menurut Yoyo, kehadiran HIPMAS menjadi salah satu ruang strategis untuk mendorong pengusaha muda Orang Asli Papua (OAP) agar mampu berkembang dan mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi di tanah Papua.

Ia menegaskan, pemerintah perlu memberikan ruang, akses, dan kesempatan yang lebih luas kepada pengusaha muda asli Papua. Menurutnya, keberadaan fasilitas dan program pemerintah tidak akan memberikan dampak maksimal apabila anak-anak Papua tidak diberikan kesempatan untuk terlibat sebagai pelaku utama.
“Harapan saya, dengan hadirnya HIPMAS ini, pemerintah Papua Pegunungan memberikan kesempatan. Sebab fasilitas itu ada, tetapi kalau tidak ada kesempatan, sama saja orang Papua tidak bisa berkembang,” ujar Yoyo kepada media ini usai menghadiri pelantikan HIPMAS Papua Pegunungan di Aula Imanuel, Kamis (24/9/2026).

Ia mengatakan, kesempatan tersebut dapat diberikan dalam berbagai sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan potensi dan kearifan lokal Papua, seperti pertanian, peternakan, perikanan, infrastruktur hingga konektivitas wilayah.
“Orang Papua sudah bisa mengerjakan proyek. Karena itu, beri kesempatan. Terutama kepada pengusaha dan trainer Orang Asli Papua,” katanya.

Yoyo mencontohkan, pengusaha muda yang tergabung dalam HIPMAS dapat dilibatkan dalam berbagai program pembangunan yang berada di bawah perangkat daerah, termasuk sektor peternakan, pertanian, perikanan maupun pekerjaan umum dan perumahan rakyat.
Menurut dia, pelibatan pengusaha asli Papua dalam proyek pembangunan akan menciptakan efek ekonomi yang lebih besar karena perputaran anggaran pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Papua.

Ia juga menyinggung rencana pembangunan 2.200 unit rumah di Provinsi Papua Pegunungan yang disebut sebagai bagian dari program pemerintah pusat.
“Kalau 2.200 rumah itu dikerjakan oleh adik-adik HIPMAS yang merupakan pengusaha Papua, dengan semangat pengusaha asli Papua, itu sudah mengubah sesuatu, terutama dari sisi perekonomian,” ujarnya.

Yoyo menilai, pemberdayaan pengusaha asli Papua merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi angka kemiskinan.
Ia meyakini, apabila anak-anak Papua diberikan ruang untuk terlibat dalam berbagai sektor pembangunan sesuai amanat Otonomi Khusus (Otsus) Papua, maka akan tercipta perubahan ekonomi yang lebih nyata.
“Kalau anak-anak Papua dilibatkan dan diberdayakan sesuai amanat Otsus Papua, saya yakin kemiskinan akan berubah menjadi kesejahteraan,” tegasnya.

Karena itu, Yoyo mengajak Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, DPR Papua Pegunungan, Majelis Rakyat Papua Pegunungan (MRP PP), BP3OKP serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membuka ruang yang lebih luas bagi pengusaha muda asli Papua.
“Jangan lagi adik-adik pengusaha asli Papua hanya menjadi penonton. Kita saatnya membangun Papua. Ya, sudah, beri kesempatan. Masalah lainnya bisa diatur,” katanya.

Ia menegaskan, BP3OKP akan terus mengawal, mendorong, menyinkronkan serta memastikan agar kebijakan pemerintah dapat memberikan ruang yang adil bagi pelaku usaha asli Papua.
“Ini masalah yang menyangkut harga diri orang Papua. Setop sudah jadi orang miskin, setop sudah jadi penonton,” tegas Yoyo.
Menurutnya, pembangunan Papua harus berjalan dengan tetap menghormati adat dan budaya yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Papua.
“Kita punya adat dan budaya yang kuat, saling menghargai. Jadi BP3OKP itu tugasnya mengurus orang Papua dan mendorong agar orang Papua mendapatkan haknya, bukan merampas atau mengambil hak mereka,” jelasnya.
Yoyo menambahkan, dirinya akan terus mendorong agar pengusaha asli Papua memperoleh kesempatan untuk berkembang sehingga mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri di tanah kelahirannya sendiri.
“Saya sedang mendorong agar orang asli Papua diberikan kesempatan menjadi pengusaha. Artinya, mereka bisa menjadi bebas dan menjadi orang kaya di negerinya sendiri, di tanahnya sendiri,” pungkasnya.(Laporan Nap) **






