LAPORAN : JHON KARMA
JAYAPURA-tabloidpapuabaru.com,- Suku Besar Masyarakat Byak,Supiori dan Raja ampat di Jayapura Tanah Tabi menggelar Ibadah pengucapan syukur dalam rangka memperingati HUT Pekabarain Injil ke 118 tahun di Maudori–Supyor,Biak (26 April 1908-26 April 2026), berlangsung penuh sukacita dipusatkan di Gedung gereja GKI Bukit Zaitun Skylan Kota Jayapura.
Ibadah syukur itu di hadiri oleh pihak pemerintah provinsi Papua Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen, tokoh Agama Wakil Ketua Sinode GKI Di Tanah Papua Pdt. Heskia Rollo. S.Th, Mantan Ketua Sinode Herman Saud. Ibu Yemima Krey, Kepada Suku Tanah Tabi Dorus Awom, tokoh masyarakat Biak, Pemuda dan perempuan.
Wakil Ketua I Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hiskia Rollo, S.Th. dalam khotbahnya menegaskan bahwa perjalanan Injil di Papua merupakan bukti nyata kasih karunia Tuhan bagi seluruh masyarakat, khususnya orang Biak.
“Ini luar biasa, kasih karunia Allah yang besar untuk bangsa Papua, terlebih masyarakat Biak. Injil pertama kali masuk di Maudori–Supiori pada 26 April 1908, dan hari ini genap 118 tahun. Kita merasakan kasih Tuhan yang nyata dalam perjalanan sejarah ini,” ujarnya.
Ia mengisahkan peran penting penginjil lokal, Petrus Kafiar, yang menjadi simbol bagaimana Tuhan bekerja melalui cara yang sederhana namun penuh kuasa.
Berawal dari pengalaman hidupnya yang dibawa ke Pulau Mansinam dan dididik dalam iman Kristen, Petrus Kafiar kemudian kembali membawa Injil kepada bangsanya sendiri di Biak.

“Kalau dia bisa menjadi berkat di tempat lain, maka dia juga bisa menjadi berkat bagi bangsanya sendiri. Itu keputusan iman yang luar biasa,” kata Pdt.Heskia Rollo.
Disebutkan bahwa, sejarah masuknya Injil di Tanah Papua tidak bisa dilepaskan dari Pulau Mansinam sebagai titik awal pekabaran Injil, sekaligus ruang perjumpaan berbagai suku, termasuk masyarakat Biak yang telah lama hidup dan berkontribusi di sana.
Ia juga menyoroti peran strategis orang Biak yang tersebar di seluruh Tanah Papua, baik sebagai guru, tenaga kesehatan, pelayan gereja, hingga pekerja di berbagai bidang. Keberadaan mereka dinilai menjadi bagian penting dalam membangun peradaban iman dan sosial di Papua.
“Orang Biak ada di mana-mana. Mereka hadir dan menjadi berkat di berbagai wilayah, dari pesisir hingga pegunungan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan memakai bangsa ini sebagai alat berkat bagi sesama,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, ia turut mengapresiasi kehadiran Wakil Gubernur Papua yang telah dikukuhkan sebagai Mananwir (pemimpin adat) Kota Jayapura, sebagai simbol penguatan persatuan dan penghargaan terhadap nilai-nilai adat dan iman.
Lebih lanjut, Pdt. Hiskiab Rollo berharap perayaan Injil seperti ini terus dilestarikan dan diperkuat pada tahun-tahun mendatang, dengan melibatkan seluruh masyarakat Biak, termasuk diaspora yang tersebar di berbagai daerah.
Ia juga mendorong adanya dukungan pemerintah daerah untuk menyediakan lahan pembangunan rumah adat Biak (Rum Sram) di Tanah Tabi sebagai pusat kebudayaan dan ruang musyawarah masyarakat Biak.
“Kita perlu menyatukan hati. Harapannya, anak-anak Biak yang ada di Tanah Tabi memiliki tempat untuk berkumpul, berdiskusi, dan menjaga identitas serta nilai-nilai budaya mereka,” tegasnya.
Perayaan 118 tahun Injil ini tidak hanya menjadi ajang refleksi iman, tetapi juga momentum mempererat persatuan, memperkuat identitas budaya, dan membangun masa depan Papua yang berlandaskan nilai-nilai Injil.***






