BY PDT. JERRY RAHAKBAUW, M.Th
Setiap orang yang hidup diatas tanah ini, baik orang papua (pendatang) yang lahir besar kawin masuk atau siapapapun, dan terlebih orang asli Papua, harus atau wajib memiliki hati dan kontribusi untuk menyelesaikan masalah diatas tanah yang kita cintai Papua.
Secara khusus pula setiap hamba TUHAN yang merupakan pembawa – penyambung lida/suara TUHAN, wajib dan berani muncul memberikan kontribusi sebagai bentuk pengembalaan agar umat TUHAN diatas tanah ini keluar dari berbagai penderitaan hidup.
Terkait dengan hal tersebut, Kami sebagai hamba Tuhan yang memiliki kepedulian yang kuat atas berbagai pergumulan hidup umat Tuhan di atas tanah Papua, memberikan beberapa pemikiran dan dipandang sebagai hal yang prinsip dan perlu diperhatikan oleh semua pihak baik Jakarta maupun kita di Papua.
Pertama. Untuk Jakarta
Semua suku bangsa dari Sabang – Merauke terutama dan khusus kami Masyarakat Papua, berhak secara absah untuk menikmati keamanan, kenyaman dan jauh dari berbagai bentuk intimidasi,teror dan kekerasan.
Kekuatan Militer yang terus hadir di atas tanah Papua, bukanlah instrumen yang absah untuk menyelesaikan masalah di Papua.
Keamanan, kenyamanan, dan rasa keharmonisan antara satu dengan yang lain, tidaklah munngkin tercipai dalam Masyarakat kalau pendetakan ala superioritas militer terus hadir di atas tanah Papua
Pemerintah Pusat harus mengekang diri dan menghormati Masyarakat Papua dalam melakukan berbagai Tindakan yang bersifat eksploitasi yang mencederai hak-hak dasar hidup serta segala milik adat diatas tanah dan alam Papua.
Setiap pengembangan – Pembangunan Pembangunan yang menyentuh dengan hak-hak dasar Masyarakat haruslah ada pendekatan secara kemanusian terhadap Masyarakat pemilik hak ulayat, sebagai bentuk dari menghargai dan menghormati Masyarakat.itu sendiri.
Hal tersebut perlu dilakukan agar menghindar diri dari benturan-benturan antara Masyarakat dengan penguasa agar ujungn-ujungnya tidak menimbulkan korban terutama Masyarakat itu sendiri yang sering kali mengalami berbagai bentuk kerugian
Dua, untuk Papua
Mayoritas Masyarakat asli Papua merupakan orang Kristen yang sudah ditebus oleh Darah Yesus di bukit Golgota, selanjutnya telah mengikrarkan Papua sebagai tanah damai, sebagai bentuk dari sikap hati yang berkomitmen hidup dalam DAMAI-NYA TUHAN dengan sesama dan dengan alam Papua, juga merupakan bentuk lain dari perwujudan Masyarakat asli Papua yang merupakan warga Kerajaan Surga meskipun masih hidup diatas dunia yang penuh dengan gejolak.
Sebagai umat Tuhan, IA telah mengajarkan kepada kita sebagai orang percaya atas tanggungjawab, wajib untuk membawa dan menyatakan damai dalam seluruh perjuangan hidup, dan selaku orang yang diberkati Tuhan serta disebut sebagai anak-anak Allah bandingkan dengan Matius lima ayat sembilan ditengah perjalanan yang penuh dengan gejolak dan ancaman hidup.
Perihal membawa dan menyatakan damai merupakan Pekerjaan Ilahi yang telah diamanatkan kepada setiap orang Parcaya “Masyarakat Papua”. Sebab itu mustahil dapat menyebut diri kita sebagai anak-anak Allah yang otentik, jika kita tidak membawa damai juga.
Untuk itu sebagai umat milik tebusanNya perlu memperhatikan prakarsa
-prakarsa sederhana tersebut di bawa in, agar disikapi dalam panggilan untuk mewujudkan Damai yang dimulai dari Papua, Indonesia bahkan dunia, meskipun hal itu sangat sulit karena kita sendiri berada dalam berbagai kesusahan dan penderitaan hidup. Tetapi sebagai umat TUHAN wajib sungguh-sungguh melakukan apa yang DIA amanatkan yaitu menyebarkan kedamian maka TUHAN akan memperhitungkan berbagai pergumulan hidup yang susah tersebut. Bandingkan dengan 1 Korintus lima belas, ayat lima puluh delapan.( 1 kor 15: 58)
Semangat juang orang Kristen dalam mewujudkan damai harus terus berkobar dalam setiap hati Nurani, alias kehidupan damai sejahtra harus dipulihkan kalau hal itu telah mengalami kesuaman.
Sebagai murid TUHAN, kita orang Papua harus kuat dalam doa dan komitmen untuk terus mengobarkan semangat hidup yang dilandasi oleh nilai-nilai yang diajarkan TUHAN terutama tentang kedamaian, meskipun untuk mewujudkan hal itu sangat sulit karena berbagai factor yang telah melukai kita.
Sebagai orang Kristen, yang hidup diatas tanah yang diberikan TUHAN dengan segala harta kekayaan yang melimpah yaitu Tanah Papua, harus dijadikannya sebagai serambi atau symbol yang memaknai Bait Allah, dan Yerusalem yang diwarnai dengan kedamaian. Meskipun pihak tertentu mengabaikan harga diri kita dengan terus menebarkan teror dan intimidasi karena kepentingan lain yang terselubung atas apa yang mereka lakukan
Sebagai milik TUHAN kita harus terus berusaha dalam doa dan iman yang dibingkai dengan kedamaian untuk terus membangun hubungan dan atau relasi secara kontinyu/bejenjang dengan semua pihak terutama Jakarta untuk bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan yang dialami oleh Masyarakat Papua/
Tiga. Penutup
Demikian beberapa pemikiran yang sekiranya kita terus berupaya,berjuang dengan cara-cara yang TUHAN kehendaki, tidak ada yang mustahil dan pasti TUHAN akan segera memulihkan setiap kehidupan, serta kesejahtraan alias menikmati semua yang IA sediakan bagi kita di atas tanah ini.
Mengakhiri opini ini perlu Jakarta dan Papua menyimak apa yang dikotbahkan oleh salah tokoh terkenal dunia yaitu : Marthen Luther King,Jr. ( kutipan/terjemahan bebas)
“ Kedamaian yang benar baru ada jika disertai dengan keadalian” dan
“Janganlah makan hati kendati diperlakukan buruk, janganlah membenci apa bila kita berjuang dalam keberanian “ karena ke-tidak-adilian dan ketidak benaran.***






