Laporan; John Karma
JAYAPURA – tabloidpapuabaru.com,- Momentum kegiatan Penta Kosta diharapkan tidak hanya menjadi ajang persekutuan rohani semata, tetapi juga menjadi ruang pembaharuan bagi kaum perempuan di dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.
Harapan tersebut disampaikan mantan Ketua Sinode ibu Yemima Krey ketika di wawancarai wartawan tabloidpapuabaru.com usai mengikuti ibadah perayaan Pentakosta Ke dua di halaman kantor Gubernur Papua ( Senin,25/5).
Disebutkan pelayanan yang menekankan pentingnya perempuan Kristen mengambil peran strategis dalam membangun keluarga, jemaat, hingga kehidupan sosial yang lebih baik.
Pembaharuan di tengah jemaat hanya dapat terjadi apabila kaum perempuan semakin fokus pada firman Tuhan dan mampu mengembangkannya menjadi pemikiran yang membawa transformasi nyata.
“Penelaahan Alkitab tidak lagi hanya dipahami secara harfiah, tetapi harus mampu menjawab persoalan sosial, ekonomi, hingga masalah lingkungan hidup. Dari sana, pemahaman iman dapat dieksekusikan menjadi program-program nyata yang menghadirkan perubahan di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai perempuan memiliki posisi penting dalam menentukan arah perubahan sebuah komunitas. Karena itu, kaum ibu diharapkan tidak hanya terfokus pada aktivitas domestik sehari-hari, tetapi juga mulai memikirkan masa depan generasi muda, khususnya calon ibu muda dan perempuan muda yang membutuhkan pendampingan dalam membangun kehidupan rumah tangga yang sehat dan berkualitas.
Menurutnya, perbaikan suatu masyarakat sesungguhnya dimulai dari keluarga. Dalam konteks itu, peran seorang ibu tidak dapat tergantikan karena menjadi sosok utama dalam mendidik, membentuk karakter, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak.
“Sebesar apa pun tantangan ekonomi dan kemiskinan yang dihadapi, seorang ibu Kristen harus tetap mampu berjuang membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter sesuai firman Tuhan. Dari keluarga yang kuat akan lahir masyarakat yang kuat,” katanya.
Lebih lanjut disampaikan bahwa proses perubahan tidak selalu terjadi secara instan ataupun melalui hal-hal spektakuler. Perubahan, kata dia, lahir melalui ketekunan, ketaatan, dan kesediaan menjalani proses kehidupan bersama tuntunan Roh Kudus.
“Roh Kudus menolong umat dalam setiap kesukaran. Bukan sekadar menghadirkan mujizat, tetapi memberi kekuatan untuk tetap tekun, taat, dan setia menjalani proses perubahan,” ujarnya.
Melalui momentum tersebut, kaum perempuan gereja diharapkan semakin sadar akan panggilan mereka sebagai agen transformasi, baik di dalam keluarga, jemaat, maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.,”tutupnya.***





