JAYAPURA.tabloidpapuabaru.com, – Adanya undangan yang beredar di media sosial dan WA group yang isinya mengajak seluruh masyarakat Biak di Tanah Tabi untuk mengikuti ibadah di Kediaman calon gubernur Papua BTM pada selasa 22 April 2025.
Secara resmi Dewan Adat Biak (KainKain Karkara Byak) di Tanah Tabi menegaskan bahwa tidak pernah mengeluarkan undangan atau SK untuk kegiatan tersebut.
“kegiatan itu kami Dewan Adat Biak tidak tau dan tidak kami bahas dalam forum resmi Dewan Adat Biak di Tanah Tabi, ” Ungkap Ketua Lembaga Masyarakat Biak (Kainkain Karkara Byak), di Tanah Tabi, Dorus Awom melalui sekretarisnya Winand Yeninar saat di konfirmasi media ini Senin 21 April 2025.
Winand menjelaskan sesuai rapat terakhir maka Dewan adat Biak di Tanah Tabi mengeluarkan SK yang ditandatangani Mananwir Tabi Dorus Awom kepada panitia HUT Pekabaran Injil di Maudori Biak-Supiori, yang pada tanggal 26 April 2025 nanti akan digelar ibadah syukur, bersama seluruh masyarakat Biak di Tanah Tabi bertempat di GOR Trikora Uncen Abepura.
Sehingga terkait adanya undangan dari pihak lain yang mengajak masyarakat untuk beribadah di kediaman BTM calon gubernur Papua, menurut Winand, silahkan saja hanya jangan mengatasnamakan Dewan Adat Biak di Tanah Tabi untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
” Kami sudah baca narasi isi dalam surat undangan yang ditandatangani oleh saudara Gonsales W.Rumbewas yang beredar itu, dan menurut kami itu sudah salah mengapa, ? pertama karena menyebut identitas orang Biak, ajakan seperti kata awin kamam, mambri, binsyowi, binggon, naek srar kawasa byak di tanah Tabi, kemudian di akhir surat bunyinya Hormat Kami “Masyarakat Byak di Tanah Tabi” narasi seperti Inikan jelas mengatasnamakan orang Biak di Tanah Tabi. Itu tidak boleh cukup gunakan saja bapak, ibu atau saudara/ri untuk kepentinganmu.
Inikan aneh anda siapa kepala suku ka..? sehingga mau mengatasnamakan masyarakat Byak di Tanah Tabi.” Tegas Winand Yeninar mempertanyakan.
Masyarakat Biak yang hidup di Tanah Tabi dilindungi oleh Dewan Adat Byak. Sehingga jangan main-main dengan Adat.
“ada lembaga adat, ada orang-orang tua mananwir jadi mau buat sesuatu harus tanya ke adat, jangan sembarangan.”” bebernya panjang lebar.
Pertimbangan lain Dewan Adat Biak adalah, bukan persoalan politik gubernur dan wakil gubernur papua, tetapi bagaimana kita mempertahankan babe oser orang Biak.
” soal Karma dan Rumaropen yang saat ini mencalonkan diri dalam bursa pilgub Papua, akan diundang, kita duduk bersama-sama untuk beribadah sebagai kamam, awin, imem, mebin, napirem, naek, srar, romawa, inai, K’pu,, buka soal politiknya,” Ujar Winand.
Ia menyebutkan bahwa lembaga Adat Biak di Tanah Tabi telah mengarahkan agar jangan masyarakat Biak mengadakan ibadah-ibadah yang mengatasnamakan adat di rumah-rumah kandidat calon gubernur Papua, karena hari ini kita adat lagi fokus pada kebangkitan orang Biak pada tanggal 26 April nanti. Sehingga semua kita fokus disana dan kita tidak mau ibadah-ibadah berbau politik. Aryoko Rumaropen maupun Costan Karma akan diundang sebagai anak Biak bukan sebagai calon wagub.
” Yang penting jangan sampai politik ini membuat kita masyarakat Biak terpecah tetap jaga kebersamaan babe oser,” Mari kita belajar dari tokoh injil Petrus Kafiar, dan pendahulu pendahulu orang Biak sejak dahulu, sekarang dan akan datang. Itu yang harus dipikirkan dengan baik. Jangan gunakan politik ini untuk membunuh kebersamaan kita orang Biak.
” Jadi sekali lagi kami dari Lembaga Masyarakat Adat di Tanah Tabi tidak mengetahui surat yang beredar itu, kami anggap itu kepentingan politik, “tutup Winand.**






